BACA JUGA : Temui Ajal Ketika Bangun Jalan Dibunuh KKB Papua
Bentuk solidaritas itu juga tidak hanya ditunjukkan suporter Aremania, julukan pendukung klub sepak bola Arema FC, melainkan juga dari ratusan suporter lainnya. Seperti Bonek (suporter Persebaya Surabaya), The Jak Mania (Persija Jakarta), Bobotoh Viking (Persib Bandung), hingga suporter PSIL Lumajang.
Mereka melebur jadi satu di halaman Stadion Semeru Lumajang. Masing-masing mereka membawa dan menyalakan lilin. Tidak sekadar menyalakan lilin, aksi itu juga dilanjutkan dengan doa dan tahlil bersama. Lalu, perwakilan suporter menyampaikan keluh kesahnya atas tragedi mengerikan itu.
Koordinator aksi, Ubay, mengatakan, kegiatan itu diikuti oleh hampir semua elemen suporter bola. Dengan mengenakan pakaian hitam, ungkapan duka cita itu ditunjukkan. Seluruhnya menyatu, mendoakan para korban yang meninggal maupun luka-luka.
Sebagai salah satu saksi mata, dia turut serta menceritakan kondisi saat kerusuhan. “Saya dan banyak kawan berada di lokasi (Stadion, Red). Saya melihat langsung kejadian itu. Bagaimana saya dan teman-teman lain berjuang di tengah kepulan gas air mata. Mata perih, susah bernapas, berdesak-desakan mencari pintu keluar,” kenangnya.
Saat gas air mata ditembakkan, lanjutnya, dia dan para pendukung terkejut. Sebab, tembakan itu ditujukan langsung ke arah tribun. Padahal, menurutnya, di atas tribun kondisinya tidak terjadi kericuhan. Oleh karena itu, tembakan yang dilakukan itu membuat seluruhnya panik. “Ditembakkan berkali-kali. Satu tribun itu ada yang sampai tiga kali,” lanjutnya.
Hal itulah yang membuat suporter di stadion kalang kabut. Mereka menyelamatkan diri. Namun, situasi chaos itu membuat semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Akhirnya, banyak korban jiwa yang berjatuhan.
Oleh karena itu, sebagai bentuk duka cita sekaligus dukungan terhadap para korban, Koordinator Aremania Lumajang itu mengajak seluruh pihak bersatu dan berjuang menegakkan keadilan. Pihaknya meminta agar kasus itu diusut sampai tuntas.
“Usut tuntas kejadian ini. Terutama penembakan gas air mata. Karena sesuai SOP, seharusnya pihak pengamanan tidak boleh membawa atau menembakkan gas air mata. Itu juga sudah diatur oleh FIFA,” tegasnya.
Dia berharap jajaran kepolisian membuka mata dan mengusut tuntas tragedi itu. Sebab, kejadian pilu itu sudah menghilangkan nyawa ratusan orang. (kin/c2/fid)
Editor : Safitri