BACA JUGA : Karta Hepiii Community Jember Serentak Perbaiki Fasilitas Umum di 18 Desa
Lelaki yang tinggal di Desa Dorogowok, Kecamatan Kunir, itu mengatakan, pertandingan MTB Cross Country Olympic Men itu sangat sengit. Seluruh atlet menunjukkan performa apiknya. Tak terkecuali Ihza yang baru turun pertama kali di SEA Games.
Saking semangatnya, Ihza menjadi kurang berhati-hati. Apalagi saat garis finis kurang seratus meter. Kejadian di turunan curam itu menjadi momen yang tidak dilupakannya.
“Menjelang 100 meter garis finis ada turunan yang curam. Di sebelah itu ada jaring pembatasnya. Saking semangatnya menuju garis finis, saya sedikit lepas kontrol. Stang sebelah kanan saya kecantol jaring dan hampir terjatuh. Tetapi saya segera menahannya dengan kaki,” ungkapnya.
Seketika, sepeda yang dia kendarai terhenti. Ihza mengaku sempat panik. Sebab, jarak antara dia dengan pembalap Filipina tidak terlalu jauh. Namun, dia berhasil menenangkan diri dan kembali fokus. Stang yang tersangkut itu dikeluarkan dan kembali melanjutkan pertandingan.
Akhirnya, Ihza berhasil mencatatkan namanya di posisi kedua. Dia berhasil menaklukkan sirkuit MTB sepanjang 20.8 kilometer dengan waktu 1 jam 19 menit 14 detik. Selisih 2 menit 33 detik dari Zaenal Fanani. “Kalau dengan pembalap Filipina selisih 50 detik saja,” ujarnya.
Rasa haru dan bangga dia rasakan. Pengalaman perdananya itu membuatnya dikalungi medali perak. Dia juga menyadari, keberhasilannya itu merupakan buah kerja keras latihannya bersama tim, khususnya bersama Fanani, selama ini.
Dia berharap event pertandingan selanjutnya tetap bisa membawa nama harum Lumajang di kancah internasional. Oleh sebab itu, alumnus MA Wahid Hasyim Sukosari, Kunir, itu memohon dukungan semua pihak. “Semoga pembinaan balap sepeda ini terus berlangsung agar bisa menciptakan bibit-bibit baru di Kabupaten Lumajang,” tutupnya. (kin/c2) Editor : Safitri