Hal itu dibenarkan Abdul Aziz, kepala desa setempat. Lahan sawah itu milik H Marlan, salah seorang warganya. “Benar menggunakan satu lahan petani. Luasannya 15 meter persegi untuk pendaratan atau landing peserta paralayang,” ungkapnya.
Aziz mengatakan, warganya tersebut merelakan satu musim tidak panen. Pemilik lahan tidak keberatan dengan itu. Sebab, kompensasi atau ganti rugi sudah diberikan. Bahkan, menurut dia, nominal ganti rugi lebih dari hasil yang seharusnya.
Dia menjelaskan, warga setempat sangat mengapresiasi salah satu event olahraga yang memanfaatkan angin tersebut. Kemarin, warga antusias kerja bakti menyiapkan semuanya. Menurut dia, persiapan sudah lebih dari 90 persen. Hanya, persiapan akhir akan dipastikan Senin mendatang.
“Persiapan klir. Baik take off di Dusun Kajar Kuning atau landing-nya di Dusun Konco Sumo sudah siap semua. Semua komponen masyarakat juga sangat antusias. Baik dari sisi akses maupun tempat tinggal sementara bagi rombongan peserta dan pelatihnya. Kami menyiapkan 20 homestay yang siap dijadikan tempat menginap,” jelasnya.
Pihaknya berharap, liga itu bisa berjalan dengan lancar. Selain itu, event tersebut bisa mendatangkan keuntungan bagi masyarakat, khususnya keuntungan ekonomi. Terlebih, olahraga tersebut bisa memunculkan bibit calon atlet baru dari Desa Sumberwuluh.
“Bagaimanapun, spot yang sudah dibangun untuk paralayang ini bisa menjadi spot nasional. Artinya, Gunung Wayang yang menjadi destinasi paralayang ke-13 di Provinsi Jawa Timur ini bisa lestari sampai kapan pun,” harapnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri