Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Museum Daerah Lumajang Tambah Koleksi Uang Kuno

Safitri • Kamis, 7 Oktober 2021 | 16:31 WIB
TUNJUKKAN: Salah satu pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang saat menunjukkan tambahan koleksi uang kertas yang dikeluarkan tahun 1945 silam beserta beberapa koin yang digunakan untuk transaksi dahulu kala.   
TUNJUKKAN: Salah satu pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang saat menunjukkan tambahan koleksi uang kertas yang dikeluarkan tahun 1945 silam beserta beberapa koin yang digunakan untuk transaksi dahulu kala.  
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID - Sudut-sudut ruang museum daerah nyaris tidak pernah berubah. Koleksi barang bersejarah dalam vitrin atau tempat penyimpan barang di ruang purbakala maupun ruang seni budaya hampir tidak bertambah. Padahal tidak sedikit kolektor yang menawarkan atau berencana menghibahkan barang yang dimilikinya.

Vitrin dalam ruang purbakala hanya menyimpan barang-barang bersejarah macam senjata, keris, koin, manuskrip, relief, pusaka, dan puluhan prasasti. Selanjutnya, di ruang seni budaya hanya tetap menampilkan replikasi pakaian ala lumajangan, alat musik tradisional, wayang krucil, dan koleksi topeng. Termasuk tambahan koleksi topeng Kaliwungu.

Staf Tenaga Teknis Arkeologi Museum Daerah Lumajang Aries Purwantiny mengatakan, pengunjung museum didominasi kalangan pelajar dan orang-orang yang membutuhkan pengetahuan sejarah. Karenanya, sebagai tempat edukasi, informasi dan rekreasi, museum sangat selektif menerima koleksi baru.

“Tahun 2020 kami sudah menaruh display koleksi topeng Kaliwungu. Tahun ini kami menerima uang kuno, uang kertas, dan koin. Tapi, masih dalam kajian dan penelitian. Dalam mencari koleksi museum tidak berdasar sembarang orang menghibahkan terus kami terima. Tetapi, kami mencari koleksi yang mewakili Lumajang,” katanya.

Aries melanjutkan, saat ini museum daerah tengah memutuskan baru menerima koleksi uang kertas dan koin. Koleksi uang kertas sebesar sepuluh rupiah dari tahun 1945 dan sepuluh rupiah dari tahun 1960. Berikutnya, uang kertas sebesar dua setengah rupiah yang dikeluarkan tahun 1964.

Ketiga uang kertas itu secara kasat mata memiliki perbedaan yang mencolok. Meskipun nilai dua uang kertas sama, tetapi beda tahun beda ukuran. Semakin bertambah tahunnya, semakin kecil ukurannya. Bahkan uang kertas yang keluar tahun 1964 itu ukurannya lebih kecil dari uang keluaran sekarang.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang (Disparbud) Siswanto mengatakan, merawat koleksi museum itu membutuhkan perlakuan khusus. Perlu konservasi dan penelitian. Sebab, barang-barang itu memiliki nilai sejarah dan terus diuji penelitiannya.

 

 

Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri
#museum #sejarah #Lumajang