Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, ada 30 SMA mengikuti ANBK. Perinciannya, 12 SMA negeri, sisanya swasta. Sementara, pada jenjang MA, ada 69 MA mengikuti ANBK. Enam MA menyelenggarakan dengan sistem menumpang sekaligus gelombang kedua. Sedangkan satu MA di Kecamatan Pasirian tidak dapat mengikuti ANBK.
“Memang satu MA ini tidak menyelesaikan administrasi data sesuai waktunya. Artinya, mereka telat input data. Sehingga nomor yang didapat juga terlambat dari pusat. Jadi, siswa kelas sebelas MA tersebut tidak dapat mengikuti ANBK,” ungkap Arif Mustofa, koordinator teknis ANBK Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lumajang.
Secara otomatis, kata Arif, sekolah tersebut tidak dapat mengikuti ANBK tahun ini. Dia melanjutkan, tidak ada informasi ANBK susulan. Karena itu, pihaknya menunggu informasi kelanjutan sekolah tersebut.
Arif menjelaskan, adanya ANBK kurang direspons oleh satuan pendidikan. Karenanya, pelaksanaan ANBK masih ditemukan kendala. Apalagi hal tersebut tidak menjadi syarat kelulusan, sehingga sekolah tidak mempersiapkannya dengan matang. “(Sekolah, Red) kurang respect. Makanya, ada sekolah yang melaksanakan bukan mandiri atau menumpang. Maksudnya, mereka memiliki sarana prasarana, tetapi tidak ada server-nya,” jelasnya.
Tak hanya itu, jumlah siswanya tidak selalu sama. Ada yang memenuhi pagu 45 siswa dan lima cadangan. Ada juga siswa yang kurang dari itu. Bahkan, jumlah paling sedikit adalah empat siswa. “Kalau jumlah siswanya ada 45 atau lebih, maka yang ikut 45 siswa. Jika masih ada sisanya, maka lima siswa menjadi cadangan. Nah, kalau jumlah siswa kurang dari 45, maka semuanya diikutkan,” tambahnya.
Sebagai informasi, ada tiga hal yang dinilai dalam ANBK. Pertama, asesmen kompetensi minimum (AKM) untuk mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif. Kedua, survei karakter untuk mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai sebagai hasil belajar nonkognitif. Terakhir, survei lingkungan belajar untuk mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran.
Apa yang dilakukan oleh lembaga pendidikan akan tahu literasi dan numerasi, tetapi ending-nya adalah karakter soalnya lebih kontekstual di zaman sekarang. Ini bagus bagi pendidikan masa depan. Berbeda dengan akreditasi, karena item yang dinilai berbeda. Sehingga ada hasil rekomendasi bagi siswa, sekolah, guru, kepala madrasah, maupun lingkungan sekolah.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri