Seperti salah satu kebun salak milik Sanhaji. Di tanah seluas satu hektare ini, sudah ada 2.500 pohon salak dengan berbagai jenis yang ditanam. Mulai dari salak pondoh, manggala, hingga gula pasir. Rasanya yang renyah, manis, dan sedikit asam menjadi ciri khas. Selain itu, kesuburan tanahnya ditunjang oleh dataran tinggi dengan suhu yang dingin.
Tiga jenis salah itu memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari kulit, rasa, serta daunnya. Selain itu, perbedaan harga yang jauh lebih mahal dari jenis manggala dan gula pasir, sebab masa panennya membutuhkan waktu yang cukup lama. Yakni hampir satu tahun.
Sementara, salah pondoh dalam waktu tujuh bulan sudah dapat dipanen dan dipasarkan. "Jadi, ketiga salak ini dapat dilihat perbedaannya dari kulit, daun, dan rasanya," ujar Sanhaji, petani salak.
Sebelum pandemi, permintaan salak milik Sanhaji terus berdatangan. Para pemasok salak selalu memintanya untuk memberi stok yang lebih. Namun, di awal masa pandemi, permintaan salak merosot tajam. Harganya jatuh drastis.
Bahkan, dia harus merelakan salaknya membusuk di pohonnya. Sebab, permintaannya tidak ada. Dengan berat hati, dia pun menjual sebagian salaknya kepada penambang dengan separuh harga. "Pernah di awal pandemi salaknya ga laku. Jadi, saya biarkan membusuk di pohon," imbuhnya. Dia berharap keadaan segera kembali normal, sehingga permintaan salak terus meningkat.
Jurnalis : mg3
Fotografer : mg3
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri