alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ini yang Kamu Cari, Berikut Kisaran Harga Joki Skripsi

“Kalau ada revisi, ya, dibenerin dengan harga yang sebelumnya sudah ditetapkan. Tapi tergantung. Kalau revisinya melenceng dari matriks dan diskusi, ya, bisa nambah.” Ruroh - Joki Skripsi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MOMENTUM jelang kelulusan di perguruan tinggi menjadi ajang bagi para joki skripsi untuk mengeruk cuan. Umumnya, para pengguna jasa mereka adalah mahasiswa S-1 atau S-2 yang sedang menempuh kuliah. Para joki skripsi ini biasanya menyasar kalangan mahasiswa yang malas, namun memiliki cukup duit untuk membayar jasa pembuatan skripsi tersebut. Praktik semacam ini tidak hanya terjadi di satu kampus, tapi juga beberapa perguruan tinggi di Jember, baik swasta maupun negeri.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, sebenarnya aktivitas joki skripsi ini sudah lawas. Sejak dulu, setiap menjelang kelulusan selalu ada mahasiswa atau sarjana yang baru lulus nyambi menjadi joki skripsi. Namun, jumlah mereka tidak banyak. Cara operasinya pun sembunyi-sembunyi dengan mengandalkan kenalan dan getok tular.

Namun, di masa pandemi, pekerjaan menjadi joki skripsi ini kian menjamur dan semakin terbuka. Sebab, jumlah mahasiswa yang membutuhkan jasa joki juga cukup banyak. Padahal, di masa pandemi semestinya mahasiswa bisa mengerjakan skripsi sendiri, karena mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak. Faktanya, tetap banyak di antara mereka yang memilih cara instan untuk merampungkan tugas akhir tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah seorang joki skripsi, Ruroh, mengungkapkan, saat ini pesanan pembuatan skripsi meningkat tajam jika dibandingkan masa-masa normal sebelumnya. Dalam sebulan, ia bisa mengerjakan tiga penelitian atau skripsi sekaligus. Jumlah itu adalah kapasitas maksimal yang mampu ia kerjakan. “Pokoknya, proposal sudah beres, matriks sudah beres, tinggal nyari data dan penyusunan dengan kerangka teori,” ungkapnya.

Harga yang dipasang cukup variatif. Bergantung pada tingkat kesulitannya. Jasa yang ia tawarkan dibanderol dengan harga Rp 800 ribu hingga hampir Rp 3 juta. Untuk tarif yang paling rendah yaitu Rp 800 ribu, biasanya untuk penelitian skripsi yang tinggal melakukan pendataan secara kuesioner atau kuantitatif tanpa melakukan analisis. “Kalau ada revisi, ya, dibenerin dengan harga yang sebelumnya sudah ditetapkan. Tapi tergantung. Kalau revisinya melenceng dari matriks dan diskusi, ya, bisa nambah,” katanya.

Paling mahal ia mematok tarif Rp 2,8 juta. Layanannya meliputi pembuatan proposal dan penyelesaian skripsi sampai selesai. Artinya, dari awal hingga akhir ia yang menyelesaikan skripsi. Ruroh mengaku, ia tidak sembarangan menerima tawaran penggarapan skripsi mulai dari awal hingga selesai. Biasanya, ia akan menyanggupi skripsi atau penelitian yang memiliki korelasi dengan disiplin ilmu yang pernah ia pelajari, yaitu ilmu sosial.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MOMENTUM jelang kelulusan di perguruan tinggi menjadi ajang bagi para joki skripsi untuk mengeruk cuan. Umumnya, para pengguna jasa mereka adalah mahasiswa S-1 atau S-2 yang sedang menempuh kuliah. Para joki skripsi ini biasanya menyasar kalangan mahasiswa yang malas, namun memiliki cukup duit untuk membayar jasa pembuatan skripsi tersebut. Praktik semacam ini tidak hanya terjadi di satu kampus, tapi juga beberapa perguruan tinggi di Jember, baik swasta maupun negeri.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, sebenarnya aktivitas joki skripsi ini sudah lawas. Sejak dulu, setiap menjelang kelulusan selalu ada mahasiswa atau sarjana yang baru lulus nyambi menjadi joki skripsi. Namun, jumlah mereka tidak banyak. Cara operasinya pun sembunyi-sembunyi dengan mengandalkan kenalan dan getok tular.

Namun, di masa pandemi, pekerjaan menjadi joki skripsi ini kian menjamur dan semakin terbuka. Sebab, jumlah mahasiswa yang membutuhkan jasa joki juga cukup banyak. Padahal, di masa pandemi semestinya mahasiswa bisa mengerjakan skripsi sendiri, karena mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak. Faktanya, tetap banyak di antara mereka yang memilih cara instan untuk merampungkan tugas akhir tersebut.

Salah seorang joki skripsi, Ruroh, mengungkapkan, saat ini pesanan pembuatan skripsi meningkat tajam jika dibandingkan masa-masa normal sebelumnya. Dalam sebulan, ia bisa mengerjakan tiga penelitian atau skripsi sekaligus. Jumlah itu adalah kapasitas maksimal yang mampu ia kerjakan. “Pokoknya, proposal sudah beres, matriks sudah beres, tinggal nyari data dan penyusunan dengan kerangka teori,” ungkapnya.

Harga yang dipasang cukup variatif. Bergantung pada tingkat kesulitannya. Jasa yang ia tawarkan dibanderol dengan harga Rp 800 ribu hingga hampir Rp 3 juta. Untuk tarif yang paling rendah yaitu Rp 800 ribu, biasanya untuk penelitian skripsi yang tinggal melakukan pendataan secara kuesioner atau kuantitatif tanpa melakukan analisis. “Kalau ada revisi, ya, dibenerin dengan harga yang sebelumnya sudah ditetapkan. Tapi tergantung. Kalau revisinya melenceng dari matriks dan diskusi, ya, bisa nambah,” katanya.

Paling mahal ia mematok tarif Rp 2,8 juta. Layanannya meliputi pembuatan proposal dan penyelesaian skripsi sampai selesai. Artinya, dari awal hingga akhir ia yang menyelesaikan skripsi. Ruroh mengaku, ia tidak sembarangan menerima tawaran penggarapan skripsi mulai dari awal hingga selesai. Biasanya, ia akan menyanggupi skripsi atau penelitian yang memiliki korelasi dengan disiplin ilmu yang pernah ia pelajari, yaitu ilmu sosial.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MOMENTUM jelang kelulusan di perguruan tinggi menjadi ajang bagi para joki skripsi untuk mengeruk cuan. Umumnya, para pengguna jasa mereka adalah mahasiswa S-1 atau S-2 yang sedang menempuh kuliah. Para joki skripsi ini biasanya menyasar kalangan mahasiswa yang malas, namun memiliki cukup duit untuk membayar jasa pembuatan skripsi tersebut. Praktik semacam ini tidak hanya terjadi di satu kampus, tapi juga beberapa perguruan tinggi di Jember, baik swasta maupun negeri.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, sebenarnya aktivitas joki skripsi ini sudah lawas. Sejak dulu, setiap menjelang kelulusan selalu ada mahasiswa atau sarjana yang baru lulus nyambi menjadi joki skripsi. Namun, jumlah mereka tidak banyak. Cara operasinya pun sembunyi-sembunyi dengan mengandalkan kenalan dan getok tular.

Namun, di masa pandemi, pekerjaan menjadi joki skripsi ini kian menjamur dan semakin terbuka. Sebab, jumlah mahasiswa yang membutuhkan jasa joki juga cukup banyak. Padahal, di masa pandemi semestinya mahasiswa bisa mengerjakan skripsi sendiri, karena mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak. Faktanya, tetap banyak di antara mereka yang memilih cara instan untuk merampungkan tugas akhir tersebut.

Salah seorang joki skripsi, Ruroh, mengungkapkan, saat ini pesanan pembuatan skripsi meningkat tajam jika dibandingkan masa-masa normal sebelumnya. Dalam sebulan, ia bisa mengerjakan tiga penelitian atau skripsi sekaligus. Jumlah itu adalah kapasitas maksimal yang mampu ia kerjakan. “Pokoknya, proposal sudah beres, matriks sudah beres, tinggal nyari data dan penyusunan dengan kerangka teori,” ungkapnya.

Harga yang dipasang cukup variatif. Bergantung pada tingkat kesulitannya. Jasa yang ia tawarkan dibanderol dengan harga Rp 800 ribu hingga hampir Rp 3 juta. Untuk tarif yang paling rendah yaitu Rp 800 ribu, biasanya untuk penelitian skripsi yang tinggal melakukan pendataan secara kuesioner atau kuantitatif tanpa melakukan analisis. “Kalau ada revisi, ya, dibenerin dengan harga yang sebelumnya sudah ditetapkan. Tapi tergantung. Kalau revisinya melenceng dari matriks dan diskusi, ya, bisa nambah,” katanya.

Paling mahal ia mematok tarif Rp 2,8 juta. Layanannya meliputi pembuatan proposal dan penyelesaian skripsi sampai selesai. Artinya, dari awal hingga akhir ia yang menyelesaikan skripsi. Ruroh mengaku, ia tidak sembarangan menerima tawaran penggarapan skripsi mulai dari awal hingga selesai. Biasanya, ia akan menyanggupi skripsi atau penelitian yang memiliki korelasi dengan disiplin ilmu yang pernah ia pelajari, yaitu ilmu sosial.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Siswa SD Dapat Double Degree

Mulai Ada Sapi Bergejala PMK

Bondowoso versus Kota Probolinggo

/