“Monumen perjuangan di Lumajang itu dibangun untuk menggambarkan satu situasi psikologis. Misalnya monumen Kapten Suwandak di Klakah. Hal tersebut untuk menunjukkan perjuangan rakyat Klakah melawan penjajahan Belanda diwakili gugurnya, Kapten Suwandak. Begitu juga monumen yang lainnya,” kata Mansur Hidayat, aktivis sejarah Lumajang.
Mansur sangat menyayangkan monumen tanpa perawatan. Sebab, menurutnya, masyarakat boleh saja menghiraukan bangunan tersebut. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya akan terus digelorakan. Jika pemerintah tidak menghargai monumen itu, seolah-olah juga melupakan proses perlawanan, semangat, dan perjuangan rakyat melawan penjajah.
Dia menegaskan, pelestarian monumen tetap menjadi tugas pemerintah daerah. Namun, jika ada masyarakat yang sukarela merawat, justru menjadi catatan. Seperti monumen Kapten Suwandak, Klakah, yang dibuat tempat jualan. Atau Monumen Juang Sukartiyo Nogosari yang menjadi tempat jemuran. “Kita ambil jalan tengah. Kalau ada yang jualan, silakan saja. Asalkan komitmen menjaga kebersihannya. Tetapi, jika dibuat jemuran, ini bentuk cibiran,” tegasnya.
Monumen yang ada harus segera dilakukan pemeliharaan khusus. Sebab, bangunan monumen merupakan bagian dari mengenang perjuangan para pahlawan. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus berpartisipasi.
“Saat ini, kita sedang utang janji kepada pahlawan. Memang kita tidak berjuang, tetapi kita akan terus merawat warisannya. Melalui monumen atau patung itulah, kita akan mengenang mereka. Terutama perlu dipegang ‘jas merah’. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Harapannya, setelah pandemi, kita bisa merawat kembali,” harapnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Hananomi
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri