alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Tak Ada Anggaran, Monumen Perjuangan di Lumajang Tak Terawat

Dari tahun ke tahun, pemeliharaan monumen acap kali dikeluhkan. Padahal monumen itu tidak hanya dilihat secara fisik atau materi. Tetapi, ada sejarah dan filosofi perjuangan di baliknya. Bukan sekadar dibangun tanpa tujuan.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jumlah monumen perjuangan di Lumajang ada puluhan. Akan tetapi, sebagian besar monumen tersebut minim pemeliharaan. Sebab, tidak ada alokasi anggaran untuk pelestarian. Hanya, sejumlah monumen dilakukan pemeliharaan dan pembersihan.

Siswanto, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang mengatakan, tidak ada anggaran pemeliharaan monumen. Sejak awal, pemeliharaan hanya dilakukan secara umum. “Selama ini kami tidak ada anggaran khusus,” katanya.

Meski demikian, pihaknya berupaya melakukan pemeliharaan. Namun, hanya seputar kebersihan dan perawatan umum. Seperti menjaga lingkungan dan memperbaiki bagian monumen yang rusak. Sehingga, dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Perawatan itu menggunakan dana dari cagar budaya. Tetapi, tidak semuanya bisa dikaver. Hanya tertentu saja. Seperti mengecat ulang, menambal dinding yang rusak, dan merawat pohon di sekitar monumen. Karena sejumlah monumen menjadi wewenang DLH (Dinas Lingkungan Hidup, Red) untuk kebersihannya,” jelasnya.

Yoga Pratomo, Plt Kepala Disparbud, menuturkan, pengelolaan monumen membutuhkan sinergi dari sejumlah pihak. Sebab, hingga saat ini banyak monumen yang belum jelas kepemilikan asetnya. Ke depan, pihaknya berupaya untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Memang tidak ada anggaran perawatan. Selain itu, harus diluruskan dulu, monumen itu asetnya siapa. Sehingga, kalau sudah jelas, masing-masing pihak bisa melestarikan dan mengelola kawasan monumen itu,” tuturnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jumlah monumen perjuangan di Lumajang ada puluhan. Akan tetapi, sebagian besar monumen tersebut minim pemeliharaan. Sebab, tidak ada alokasi anggaran untuk pelestarian. Hanya, sejumlah monumen dilakukan pemeliharaan dan pembersihan.

Siswanto, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang mengatakan, tidak ada anggaran pemeliharaan monumen. Sejak awal, pemeliharaan hanya dilakukan secara umum. “Selama ini kami tidak ada anggaran khusus,” katanya.

Meski demikian, pihaknya berupaya melakukan pemeliharaan. Namun, hanya seputar kebersihan dan perawatan umum. Seperti menjaga lingkungan dan memperbaiki bagian monumen yang rusak. Sehingga, dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

“Perawatan itu menggunakan dana dari cagar budaya. Tetapi, tidak semuanya bisa dikaver. Hanya tertentu saja. Seperti mengecat ulang, menambal dinding yang rusak, dan merawat pohon di sekitar monumen. Karena sejumlah monumen menjadi wewenang DLH (Dinas Lingkungan Hidup, Red) untuk kebersihannya,” jelasnya.

Yoga Pratomo, Plt Kepala Disparbud, menuturkan, pengelolaan monumen membutuhkan sinergi dari sejumlah pihak. Sebab, hingga saat ini banyak monumen yang belum jelas kepemilikan asetnya. Ke depan, pihaknya berupaya untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Memang tidak ada anggaran perawatan. Selain itu, harus diluruskan dulu, monumen itu asetnya siapa. Sehingga, kalau sudah jelas, masing-masing pihak bisa melestarikan dan mengelola kawasan monumen itu,” tuturnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Jumlah monumen perjuangan di Lumajang ada puluhan. Akan tetapi, sebagian besar monumen tersebut minim pemeliharaan. Sebab, tidak ada alokasi anggaran untuk pelestarian. Hanya, sejumlah monumen dilakukan pemeliharaan dan pembersihan.

Siswanto, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang mengatakan, tidak ada anggaran pemeliharaan monumen. Sejak awal, pemeliharaan hanya dilakukan secara umum. “Selama ini kami tidak ada anggaran khusus,” katanya.

Meski demikian, pihaknya berupaya melakukan pemeliharaan. Namun, hanya seputar kebersihan dan perawatan umum. Seperti menjaga lingkungan dan memperbaiki bagian monumen yang rusak. Sehingga, dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

“Perawatan itu menggunakan dana dari cagar budaya. Tetapi, tidak semuanya bisa dikaver. Hanya tertentu saja. Seperti mengecat ulang, menambal dinding yang rusak, dan merawat pohon di sekitar monumen. Karena sejumlah monumen menjadi wewenang DLH (Dinas Lingkungan Hidup, Red) untuk kebersihannya,” jelasnya.

Yoga Pratomo, Plt Kepala Disparbud, menuturkan, pengelolaan monumen membutuhkan sinergi dari sejumlah pihak. Sebab, hingga saat ini banyak monumen yang belum jelas kepemilikan asetnya. Ke depan, pihaknya berupaya untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Memang tidak ada anggaran perawatan. Selain itu, harus diluruskan dulu, monumen itu asetnya siapa. Sehingga, kalau sudah jelas, masing-masing pihak bisa melestarikan dan mengelola kawasan monumen itu,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/