Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Ada Anggaran, Monumen Perjuangan di Lumajang Tak Terawat

Safitri • Senin, 23 Agustus 2021 | 16:31 WIB
GAGAH: Monumen Kapten Suwandak di Jalan Ranu, Desa/Kecamatan Klakah. Salah satu monumen di Lumajang ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
GAGAH: Monumen Kapten Suwandak di Jalan Ranu, Desa/Kecamatan Klakah. Salah satu monumen di Lumajang ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID - Jumlah monumen perjuangan di Lumajang ada puluhan. Akan tetapi, sebagian besar monumen tersebut minim pemeliharaan. Sebab, tidak ada alokasi anggaran untuk pelestarian. Hanya, sejumlah monumen dilakukan pemeliharaan dan pembersihan.

Siswanto, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang mengatakan, tidak ada anggaran pemeliharaan monumen. Sejak awal, pemeliharaan hanya dilakukan secara umum. “Selama ini kami tidak ada anggaran khusus,” katanya.

Meski demikian, pihaknya berupaya melakukan pemeliharaan. Namun, hanya seputar kebersihan dan perawatan umum. Seperti menjaga lingkungan dan memperbaiki bagian monumen yang rusak. Sehingga, dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

“Perawatan itu menggunakan dana dari cagar budaya. Tetapi, tidak semuanya bisa dikaver. Hanya tertentu saja. Seperti mengecat ulang, menambal dinding yang rusak, dan merawat pohon di sekitar monumen. Karena sejumlah monumen menjadi wewenang DLH (Dinas Lingkungan Hidup, Red) untuk kebersihannya,” jelasnya.

Yoga Pratomo, Plt Kepala Disparbud, menuturkan, pengelolaan monumen membutuhkan sinergi dari sejumlah pihak. Sebab, hingga saat ini banyak monumen yang belum jelas kepemilikan asetnya. Ke depan, pihaknya berupaya untuk menindaklanjuti hal tersebut.

“Memang tidak ada anggaran perawatan. Selain itu, harus diluruskan dulu, monumen itu asetnya siapa. Sehingga, kalau sudah jelas, masing-masing pihak bisa melestarikan dan mengelola kawasan monumen itu,” tuturnya.

Dia juga berharap monumen tersebut bisa menjadi daya tarik wisatawan. Sebab, wisata sejarah seperti monumen mati suri. Artinya, wisata tersebut kurang diminati. Wisatawan lebih tertarik dengan pariwisata alam. “Kalau ada perawatan khusus, kawasan monumen bisa jadi daya minat baru seperti wisata sejarah. Karena wisatawan cenderung mencari wisata alam atau wisata yang instagramable,” harapnya.

Tidak hanya Disparbud, DLH Lumajang juga terlibat. Namun, bukan pemeliharaan monumen, melainkan kebersihan. “Kami punya koordinator lapangan taman luar. Mereka memiliki anggota yang membersihkan taman secara berkala. Bukan pengecatan dan yang lainnya. Tapi, seluruh taman di sekitar monumen memang sering kami bersihkan,” pungkas Yuli Haris, Kepala DLH Lumajang.

 

 

Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Mapio.net
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri
#Lumajang