Penutupan tersebut merupakan inisiasi kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat. Sebab, surat edaran maupun pedoman dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan masih belum jelas. Sehingga dalam suasana yang masih pandemi ini, mereka memutuskan secara mandiri untuk menekan penularan.
Kepala Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lestari mengatakan, selama dua tahun ini pihak desa tidak mendapat sumber pemasukan dari potensi wisata. Padahal Lebaran tersebut merupakan salah satu momen untuk mendongkrak pendapatan desa. Tetapi, tahun ini terpaksa kembali ditiadakan.
“Ini adalah usulan dari pokdarwis yang didukung oleh desa dan seluruh forkopimca. Karena langkah ini dianggap tepat untuk menekan penularan korona. Bayangkan kalau dibuka, dalam sehari bisa ribuan pengunjung masuk. Apa itu tidak mengerikan. Makanya kami memilih untuk menahan diri,” jelasnya.
Menurutnya, sekalipun pedoman pembukaan wisata diterapkan di pantai tersebut, cukup banyak pengunjung yang abai. Sebab, kapasitas pengunjung dalam pantai tidak bisa dibendung. Apalagi setiap Lebaran atau kupatan, pengunjung mencapai belasan hingga puluhan ribu orang. Sangat mengkhawatirkan menimbulkan klaster baru.
Kabid Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lumajang Yudi Prasetiyo mengatakan, pengaturan wisata terus dimatangkan untuk menekan penularan. Namun, aturan tersebut bergantung pada situasi dan grafik penularan yang berkembang. “Masih kami sesuaikan dan koordinasikan,” pungkasnya.
Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Radar Digital