https://radarjember.jawapos.com/kesehatan/19/02/2023/kretek-kretek-badan-bugar-kembali/
Fisioterapis RSU Kaliwates, Ftr Firman Galuh Arisandy SST FT, mengatakan, chiropractic rata-rata menangani pasien dengan keluhan tulang belakang. Chiropractic merupakan salah satu metode manual terapi tulang belakang yang belum ada dasar ilmu untuk menguatkan terapi ini. “Kalau di luar negeri chiropractic seperti pengobatan tambahan. Tetapi dalam ilmu fisioterapi kami, chiropractic tidak pernah dipelajari,” jelasnya.
Bagi masyarakat yang hendak melakukan kretek-kretek, lebih baik melakukan pemeriksaan tulang belakang secara keseluruhan. Sebab, menurutnya, tidak semua tulang belakang bisa diterapi dengan kretek-kretek.
Chiropractic tidak dianjurkan bagi orang awam. Orang awam di sini adalah orang yang tidak mempelajari ilmu medis. “Saran kami kalau mau kretek-kretek dipikir ulang kondisi tulang belakangnya seperti apa. Lakukan pemeriksaan seperti rontgen dan CT scan,” ucapnya.
Hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi ketika pasien tidak mengecek kondisi tulangnya adalah kerusakan pada organ tertentu dan kelumpuhan. Apabila tulang belakang terkena osteoporosis, ketika di-kretek akan semakin membuat tulang patah. “Selain itu, ketika pasien memiliki TB tulang, maka TB tulang tersebut akan menyebar ke seluruh bagian tulang lainnya,” ucapnya.
Ketika melakukan kretek di bagian leher dan terjadi dislokasi, kemudian dislokasi itu terkena saraf sensorik, akibatnya hanya sakit dan kesemutan terus-menerus. Tetapi, ketika dislokasi mengenai saraf motorik bisa sampai mengalami kelumpuhan total. “Makanya kita harus hati-hati sekali,” ujarnya.
Berbicara tentang chiropractic saat ini memang masih pro dan kontra. Hal itu karena secara medis masih belum diakui sampai sekarang. Karena tidak ada ilmu dasar sebagai acuan untuk mengakui terapi ini. “Kalau ada orang medis yang melakukan saya tidak bisa berkomentar, karena saya tidak mendalami ilmu itu,” terang fisioterapis itu.
Firman menyatakan bahwa dirinya kontra dengan terapi ini. Ada tiga alasan utama yang menjadikannya dasar. Alasan pertama, karena belum ada dasar ilmu yang benar-benar mendukung terapi ini. Kedua, rata-rata chiropractic melakukan tanpa ada pengecekan kondisi kesehatan pasien. “Alasan ketiga, saya pun belum mempelajari karena memang di mata kuliah kami tidak ada,” ucapnya.
Chiropractic sangat berbahaya jika dilakukan dengan orang-orang yang tidak paham anatomi bentuk tulang belakang. “Masyarakat harus bisa memilih lagi,” pungkasnya. (cad/c2/nur) Editor : Maulana Ijal