Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Luar Biasa! Lansia 80 Tahun di Panti Masih Setia Ngarit Saban Hari, Menangis Haru Dapat Rumah Layak

Maulana RJ • Selasa, 28 April 2026 | 05:00 WIB
TERUS AKTIF: Selami, lansia asal Dusun Krajan, Desa Kemuningsari Lor, Panti, yang terus bergerak aktif meski telah memasuki usia 80 tahun. (MAULANA/RADAR JEMBER)
TERUS AKTIF: Selami, lansia asal Dusun Krajan, Desa Kemuningsari Lor, Panti, yang terus bergerak aktif meski telah memasuki usia 80 tahun. (MAULANA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Hidup ayem dan tentrem di usia senja seperti bukan pilihan yang diinginkan oleh Salami. Di usianya yang talah kepala delapan, ia memilih tetap aktif bekerja.

Belum lama ini, perjalanan hidupnya itu mendapat sentuhan hangat dari pemerintah dengan adanya hunian layak.

Di sebuah sudut gang sempit, di Dusun Krajan, Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, Jember, Nenek Selami masih tetap menjadi sosok yang luar biasa tangguh. Meski usianya telah memasuki kepala delapan, semangatnya tidak pernah padam oleh waktu.

Baca Juga: Siapkan Joran Terbaik! Ini 4 Spot Mancing Paling Mematikan di Jember

Setiap hari, dengan langkah yang meski pelan namun pasti, ia berangkat mencari rumput untuk mencukupi kebutuhan delapan ekor kambing milik saudaranya.

Baginya, mengarit bukan sekadar beban, tapi bukti bahwa usia hanyalah angka bagi mereka yang ingin terus berdaya. "Saya ngarit, untuk delapan kambing," kata nenek usia 80 tahun itu, dengan nada terbata-bata saat ditemui (15/4).

Selami memang tidak terlihat sesehat dulu. Tubuhnya yang mulai keriput, hitam legam, menandakan ia perempuan pekerja keras.

Meski ia tinggal tidak jauh dari kediaman anaknya, Selami tampaknya tidak ingin menjadi beban bagi buah hatinya yang sudah memiliki keluarga.

Namun, di balik ketangguhannya itu, Selami harus melalui hari-hari panjang dalam hunian yang memprihatinkan selama dua dekade terakhir.

Baca Juga: Anak Dibawah Umur Asal Jember Jadi Korban Tindak Asusila, Mengaku Sudah Sembilan Kali Lakukan Pencabulan Begini Kronologinya

Sepeninggal suaminya, sekitar 20 tahun silam lamanya, ia hidup sendirian di sebuah bangunan yang jauh dari kata layak. Mayoritas bangunan terbuat dari bambu dan kayu. Belum beralaskan tanah, dan genting yang bolong.

Saat hujan, bukan saja bocor yang terjadi, namun bak air terjun yang mengalir dari genting membasahi tanah tempat tinggalnya. "Waduh, kalau hujan, sudah ga karuan bocornya," kenang Selami.

Kondisi itu kini berubah drastis. Berkat realisasi program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digulirkan oleh pemerintah daerah, kediaman Selami kini jauh lebih bermartabat.

Saat itu, Selami merupakan satu diantara 6 (enam) warga di desa tersebut yang kecipratan bantuan rehabilitasi rumah. Kata dia, jauh dalam benak hatinya, tidak pernah terbesit di usia senjanya kini bisa memiliki hunian layak.

"Ya alhamdulillah, rumahnya sekarang lebih adem," katanya, disusul tawa renyah.

Baca Juga: Mahasiswa Protes Keras Soal Kenaikan UKT Sepihak, Ini Jawaban Rektorat Universitas Jember

Sulistiawati, anak dari Nenek Selami, tak mampu menyembunyikan keharuannya melihat perubahan kediaman sang ibu. Ia menceritakan betapa kontrasnya kondisi rumah dulu dibandingkan dengan sekarang.

"Dulu lantainya masih tanah, dindingnya kayu bambu, sekitar 20 tahunan. Kalau hujan ya bukan bocor lagi, tapi kebocoran," kenang Sulistiawati saat ditemui.

Kini, rumah tersebut telah bertransformasi menjadi hunian yang bermartabat. "Sekarang sudah pakai keramik, bagus sekarang, lebih nyaman. Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Bapak Bupati," ungkapnya penuh syukur.

Meskipun ia sendiri hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hidup sederhana, Sulistiawati berharap kenyamanan rumah ibunya bisa semakin lengkap dengan tambahan bantuan fasilitas dapur atau teras di masa depan.

Baca Juga: Kabar Gembira! Gus Fawait Hapus Denda Pajak Warga Jember Hingga Juni 2026, Cukup Bayar Pokoknya Saja!

Kebahagiaan Nenek Selami kian lengkap saat Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyempatkan diri berkunjung langsung ke rumahnya.

Kunjungan itu bertujuan untuk memastikan secara langsung bahwa pembangunan RTLH benar-benar terealisasi sesuai dengan harapan dan standar kelayakan bagi masyarakat.

Di rumah yang kini lebih terang dan kokoh tersebut, Selami tetap menjadi nenek yang mandiri, dikelilingi kasih sayang empat cucunya yang sesekali datang menemani, meski ia tetap teguh memilih tinggal di rumahnya sendiri.

"Tetap ngarit, lah, kerja apa lagi, semoga bantuannya berkah, dan yang ngasih bantuan diberikan kesehatan," kata Selami. (mau/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #rumah tak layak huni #Panti #rtlh #Lansia