Radar Jember - Kenaikan harga plastik tak hanya berdampak negatif. Tapi juga positif dalam merubah perilaku masyarakat agar mengurangi pemakaian plastik hingga menghindari kemasan sekali pakai.
Aktivis lingkungn dari Lembaga Edukasi Lingkungan dan Pengelolaan Sampah, Sorbu Sarka, Nurul Hidayah mengatakan, bertahun-tahun, plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Kemudahan dan harga yang relatif murah membuat masyarakat cenderung menggunakannya tanpa banyak pertimbangan.
Baca Juga: Jembatan Glundengan Jenggawah Jember Akhirnya Tuntas Diperbaiki, Begini Kondisi Terbarunya
Menurut Cak Oyong, sapaan akrab Nurul Hidayah ini menilai, kebiasaan tersebut menjadi akar persoalan utama.
Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa menganggap plastik hanya sekali pakai, sehingga berujung pada penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), bahkan ke sungai, hingga ke laut.
“Saya pernah menemukan penyu yang isi perutnya adalah plastik. Berarti penyu itu mengira plastik yang di lautan itu makanannya,” paparnya.
Menurutnya, kata dia, yang jadi masalah plastik bukan bahan ataupun harganya. Tapi kebiasaannya. “Plastik itu sering dianggap sekali pakai lalu dibuang, sehingga memperbanyak sampah,” ujarnya.
Baca Juga: Jalan Alternatif juga Diuruk, Ini Kondisi Arus Lalin di Wuluhan Jember
Ia menekankan, banyak kantong plastik yang sebenarnya masih layak digunakan kembali, namun langsung dibuang begitu saja. Padahal, jika dimanfaatkan ulang, maka jumlah sampah plastik bisa ditekan secara signifikan.
Cak Oyong mengingatkan agar masyarakat mulai memilah mana sampah yang benar-benar harus dibuang dan mana yang masih bisa dipakai kembali. “Kalau masih layak, seharusnya digunakan lagi, jangan terus cari yang baru,” tuturnya.
Fenomena penggunaan plastik sendiri bukan hal baru. Sejak sekitar tahun 1970-an, masyarakat Indonesia mulai beralih dari kemasan berbahan kertas ke plastik. Karena dinilai lebih praktis dan efisien. Namun dalam perkembangannya, fungsi tersebut justru kerap disalahgunakan.
Ia menyebut anggapan bahwa plastik murah menjadi salah satu pemicu utama perilaku boros. Banyak orang menggunakan plastik hanya sekali tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
Menurutnya, kenaikan harga plastik saat ini justru bisa menjadi pengingat penting. “Setidaknya masyarakat jadi tahu bahwa plastik itu diproduksi melalui proses panjang, jadi harus dihemat, jangan hanya sekali pakai,” imbuhnya.
Upaya beralih ke tas ramah lingkungan seperti spunbond pun dinilai belum sepenuhnya efektif. Sebab, pola penggunaannya masih sama, dipakai sekali lalu menumpuk.
Baca Juga: Salurkan 8 Ribu Ton Beras, Jember Jadi Kabupaten Terendah Penerima Bantuan Pangan se-Jatim
“Kantong spunbond itu dibuat agar dipakai berkali-kali. Tapi kalau dipakai sekali langsung dibuang, dampak lingkungannya lebih besar dari pada kantong plastik. Karena, lebih sulit terurai,” tutup pria yang juga bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Baratan.
Editor : Imron Hidayatullahh