Radar Jember – Cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah perairan pantai selatan Jember menjadi perhatian serius aparat kepolisian.
Para pengunjung yang merayakan libur Hari Raya Idulfitri 1447 H diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat kondisi gelombang laut di Pantai Selatan ini tinggi.
Ps KBO Satpol Air Polres Jember, Aiptu Agus Rianto, menekankan agar wisatawan menahan diri untuk tidak mandi di laut.
Baca Juga: Okupansi Daop 9 Jember Melejit: 158 Ribu Tiket Ludes Terjual Jelang Libur Nyepi dan Lebaran 2026
Ia menegaskan bahwa area pantai di wilayah selatan Jember pada dasarnya bukan diperuntukkan sebagai tempat pemandian karena karakteristik ombaknya yang berbahaya.
"Biasanya pengunjung yang datang langsung ingin mandi bersama keluarga. Rasanya ada yang kurang puas kalau ke pantai tidak berenang. Namun, kami ingatkan kembali bahwa keselamatan adalah yang utama," ujar Agus saat ditemui di Puger.
Beberapa titik yang menjadi perhatian khusus antara lain Pantai Payangan dan Watu Ulo di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.
Agus menyebutkan bahwa Pantai Payangan telah berulang kali memakan korban jiwa akibat terseret ombak.
Baca Juga: Mudik Udara Jember 2026: Okupansi Fly Jaya Rute Jakarta Tembus 100 Persen Jelang Lebaran
Namun, hal tersebut seringkali tidak menyurutkan keberanian pengunjung untuk tetap menceburkan diri ke laut.
Selain Payangan dan Watu Ulo, imbauan ini juga berlaku bagi wisatawan di Pantai Papuma, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Pantai Cemara, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger. Pantai Pancer, Kecamatan Puger dan Pantai Paseban, Kecamatan Kencong.
Mengingat lonjakan pengunjung yang selalu terjadi setiap libur lebaran, Satpol Air Polres Jember terus melakukan sosialisasi dan patroli di lapangan.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan tim SAR Rimba Laut serta para relawan untuk bersiaga di titik-titik keramaian wisatawan.
"Kami terus memberikan imbauan dan menempatkan personel bersama tim SAR di pantai-pantai yang padat pengunjung guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh