Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Perlu Teriak! Begini Cara Gita Veronika Suarakan Keresahan Warga Karangmluwo yang Kehilangan Ruang Hijau!

M Adhi Surya • Selasa, 10 Februari 2026 | 06:00 WIB

EKSPRESI: Gita Veronika salah satu aktor dalam pementasan Ta Dhinan komunitas kesenian Sabda Balakosa UIN KHAS Jember.
EKSPRESI: Gita Veronika salah satu aktor dalam pementasan Ta Dhinan komunitas kesenian Sabda Balakosa UIN KHAS Jember.

Radar Jember - Lampu panggung meredup, suara napas terdengar pelan dari balik gelap. Di titik itu, Gita Veronika tak lagi sekadar menghafal peran.

Ia sedang membawa kegelisahan yang hidup di luar gedung pertunjukan tentang alam yang pelan-pelan kehilangan ruangnya.

Dalam pementasan berjudul Ta Dhinan dari kelompok kesenian Sabda Balakosa, Gita menempuh, proses panjang sebelum tampil.

Ia melakukan observasi, turun langsung, dan menyelami atmosfer persoalan yang diangkat pada persoalan ekologi di Lingkungan Karangmluwo, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates.

“Apalagi peran yang saya mainkan bukan lagi personal, tapi mewakili rasa dari mayoritas orang,” tuturnya.

Menurutnya, isu tata kelola ruang hingga rendahnya kesadaran merawat lingkungan menjadi benang merah cerita yang dihadirkan di atas panggung.

Melalui gerak dan dialog, panggung berubah menjadi ruang gugatan. Alam tidak diposisikan sebagai latar pasif, melainkan subjek yang menanggung dampak dari keputusan manusia.

Di situlah peran Gita bekerja menyuarakan keresahan tanpa harus berteriak.

Kepekaan tersebut berangkat dari pengalaman keseharian. Gita yang juga aktif di organisasi PMII UIN KHAS Jember mengaku akrab dengan dinamika sosial di lingkungannya.

Perubahan ruang hidup warga bukan sekadar isu wacana, melainkan realitas yang ia saksikan sendiri.

Sebagai mahasiswi Psikologi Islam Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, Gita memandang teater sebagai medium refleksi sosial.

Seni baginya bukan sekadar tontonan, tetapi cara membaca dan menyampaikan realitas kepada publik dengan bahasa yang lebih dekat.

“Ber­teater tidak hanya sekadar tampil dan berperan,” ujarnya.

Ia menilai panggung sebagai ruang aktualisasi fungsi mahasiswa kritis, peka, dan berpihak pada persoalan masyarakat.

Lewat Ta Dhinan, Gita Veronika ingin mengingatkan bahwa isu ekologi tak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Ketika alam terus terdesak, seni hadir sebagai pengingat bahwa kepedulian tak boleh ikut meredup bersama lampu panggung,” pungkasnya. (dhi/dwi)
 

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#teater #kritik #ekologi #UIN KHAS Jember