Radar Jember - Selama 33 tahun pengabdiannya, tidak sepeser pun biaya iuran ia pungut dari para orang tua santri.
Baginya, mengajarkan agama adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan hati yang bersih, tanpa embel-embel tarif atau upah.
Sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran mengalun dari sebuah bangunan sederhana bernama Musala As-Sulaemani.
Letaknya tersembunyi di sudut Dusun Sumberejo, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember.
Suara itu menjadi penanda: di tempat itulah, sebuah pengabdian panjang terus dijaga nyalanya.
Di balik dinding musala yang bersahaja, Irfan Asmuni, 55, setia menjalani perannya.
Selama lebih dari 33 tahun, ia mendedikasikan hidupnya mengajar anak-anak mengaji. Tanpa tarif. Tanpa iuran. Tanpa syarat.
Sejak 1993 silam, bertepatan dengan awal ia membina rumah tangga, Irfan membuka pintu musalanya bagi siapa saja yang ingin belajar membaca dan memahami Alquran.
Waktu bergulir, generasi demi generasi berganti. Namun satu hal tak pernah berubah, niatnya yang lurus untuk mengabdi.
Kini, sekitar 83 santri rutin menimba ilmu darinya. Mulai anak usia dini hingga remaja setingkat SMP.
Mereka datang dengan semangat, duduk bersila, menyimak setiap lantunan dan koreksi dari sang guru.
Di tengah arus komersialisasi pendidikan, pilihan Irfan terasa kontras. Ia menolak memungut biaya apa pun dari para santri maupun wali murid.
“Di musala saya, alhamdulillah semuanya gratis. Tidak ada biaya dari santri, tidak ada iuran wali murid. Saya ingin ini benar-benar murni pengabdian,” ujar Haji Irfan, sapaan akrabnya, saat ditemui belum lama ini.
Baginya, mengajarkan agama bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa.
Soal rezeki, ia memilih mencarinya lewat jalan lain. Setiap pagi, sebelum suara mengaji kembali memenuhi musala, Irfan adalah seorang petani dan peternak kambing.
Sejak fajar, ia sudah berada di sawah dan ladang. Hingga pukul 11 siang, waktunya habis untuk bertani.
Tak jarang, ia pulang memikul rumput gajah hasil tanamannya sendiri untuk pakan ternak.
Barulah selepas zuhur, sekitar pukul dua siang, perannya berganti. Sarung dikenakan, mushaf dibuka. Ia kembali menjadi guru bagi santri-santrinya.
Pengabdian itu berlanjut lagi selepas magrib, khusus untuk santri tingkat remaja.
“Saya sudah sekitar sepuluh tahun beternak kambing. Eman kalau lahan tidak dimanfaatkan, jadi saya tanami rumput gajah juga. Dari tani dan ternak itulah kami sekeluarga hidup,” tuturnya lirih.
Pengabdian panjang itu tak sepenuhnya luput dari perhatian. Pemerintah Kabupaten Jember melalui program insentif guru ngaji yang digagas Bupati Muhammad Fawait memberikan apresiasi.
Haji Irfan tercatat sebagai satu dari sekitar 22 ribu guru ngaji penerima bantuan tersebut.
Ia mengaku bersyukur. Bukan semata soal nominal, melainkan bentuk penghargaan atas peran guru ngaji di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, sangat membantu. Bisa untuk menunjang kebutuhan belajar mengajar di musala, dan sebagian untuk keperluan keluarga,” ucap ayah satu anak itu.
Di Musala As-Sulaemani, Irfan Asmuni terus menanamkan satu keyakinan sederhana bahwa berkah tak selalu berwujud rupiah.
Kadang, ia hadir dalam lantunan ayat suci yang fasih keluar dari lisan anak-anak desa. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh