Radar Jember - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat, banjir dan tanah longsor terjadi dalam waktu bersamaan, Rabu (28/1).
Banjir terjadi di tiga kecamatan kota dengan total 191 kepala keluarga (KK) terdampak.
Genangan muncul di sejumlah kelurahan dengan ketinggian air bervariasi hingga mendekati satu meter.
Selain banjir, dua kejadian tanah longsor juga dilaporkan di lokasi berbeda.
BPBD langsung menerjunkan dua tim reaksi cepat (TRC) untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi bencana.
Luapan air terjadi setelah curah hujan tinggi membuat debit sungai kecil, saluran irigasi hingga drainase meningkat tajam.
Sejumlah ruas jalan berubah menjadi aliran air deras yang menyulitkan kendaraan melintas. Bahkan ketinggiannya mencapai semeter.
Air masuk ke rumah warga hingga ruko. Beberapa motor mogok.
Terutama di Jalan Mastrip dan Jalan Kaliurang, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Bahkan, di lokasi tersebut disebut langganan banjir.
Salah satu warga Jalan Mastrip, Hilmar terpaksa menepi. Dirinya khawatir genangan air itu masuk ke mesin matik motornya.
"Jarak ke rumah sudah dekat. Khawatir mogok. Karena lihat banyak motor yang mogok," ungkapnya saat ditemui di Jalan Mastrip, Rabu petang (28/1).
Sementara, Vindyantari Aprillia Putri mengaku, saat banjir terjadi Jalan Mastrip terjadi kemacetan.
Perjalan dari Jalan Mastrip ke Jalan Tidar memakan waktu 42 menit.
“Sengaja saya timer, untuk mengetahui berapa lama perjalanan saat banjir ini,” terangnya.
Kepala Pelaksana BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, hujan deras menyebabkan debit sungai dan saluran meningkat.
Sehingga terjadi banjir luapan ke permukiman dan akses jalan.
Di kawasan perumahan, kata Edy, petugas membantu evakuasi warga ketika ketinggian air terus bertambah.
Kelompok rentan seperti lansia dan balita menjadi prioritas penyelamatan. Aktivitas usaha kecil ikut terdampak karena genangan merendam area dagang.
"Kami langsung terjunkan tim ke lokasi untuk asesmen dan melakukan evakuasi," terangnya.
Sementara itu, tanah longsor terjadi di dua lokasi berbeda dan menutup akses irigasi serta jalan desa.
Satu rumah warga terdampak material longsor, namun tidak ada laporan korban jiwa.
Penanganan dilakukan bersama unsur pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat sekitar.
“Koordinasi lintas sektor langsung dilakukan agar penanganan cepat dan risiko lanjutan bisa ditekan,” terangnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh