Radar Jember - Lewat bahasa tubuh, Komunitas Kesenian Sabda Balakosa, Banom PMII Fakultas Dakwah serta FUAH UIN KHAS Jember, mengkritisi krisis ekologis Karangmluwo, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates.
Ini refleksi relasi manusia dengan alam. Tubuh-tubuh itu bergerak, kadang membungkuk, terhentak, lalu terdiam lama.
Tak ada dialog panjang, hanya napas, gesekan kaki di lantai, dan tatapan kosong yang seolah menyimpan amarah pada manusia dan alam.
Dalam pementasan teater bertajuk Ta Dhinan, bahasa madura yang artinya peninggalan, menjadi medium kritik Komunitas Kesenian Sabda Balakosa.
Mereka memilih bahasa tubuh sebagai cara paling jujur untuk bercerita tentang alam yang terdesak oleh perubahan ruang dan kepentingan manusia.
Sabda Balakosa merupakan komunitas seni yang berada di bawah badan otonom Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Anggotanya berasal dari Fakultas Dakwah serta Fakultas Ushuludin, Adab, dan Humaniora UIN KHAS Jember.
Dalam karya ini, seni diposisikan bukan sebagai hiburan, melainkan alat refleksi sosial.
Gerak para aktor disusun berulang, menekan, bahkan menyakitkan. Ada tubuh yang diseret, ada yang runtuh perlahan, semua menggambarkan benturan antara alam dan manusia, tentang bukit yang digerus, pohon yang ditebang, dan sungai yang kehilangan arah.
Sutradara, Khoirul Anam Ibn Syam, menjelaskan bahwa naskah pertunjukan ini berangkat dari riset ilmiah. Riset tersebut menyoroti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di kawasan Karangmluwo yang dinilai memicu berbagai dampak ekologis.
“Ini bukan sekadar imajinasi artistik. Kami membaca data, melihat kondisi lapangan, lalu menerjemahkannya ke dalam tubuh,” ujarnya.
Karangmluwo direpresentasikan sebagai ruang hidup yang rapuh.
Dalam pementasan, alam tidak digambarkan berlebihan secara visual, namun dihadirkan melalui tubuh manusia yang lelah dan tertekan seolah menanggung beban yang terus dipaksakan.
Pementasan ini juga membawa pesan reflektif.
Menghargai alam tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kesadaran sederhana, menjaga bukit tetap hijau, merawat sungai, dan tidak membuang sampah sembarangan.
Bagi Anam, membahas ekologis lewat tubuh, sebagai pengingat bahwa ketika alam dilukai, tubuh manusia ikut merasakannya.
Seni pun hadir sebagai peringatan sunyi, tentang krisis yang sedang berlangsung, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh