Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petani di Jember Masih Belum Banyak Pakai Alat Canggih, Penyuluh Diminta Tidak Hanya Sosialisasi, tapi Beri Contoh

Yulio Faruq Akhmadi • Sabtu, 22 November 2025 | 19:03 WIB

 

CANGGIH: Pilot drone pertanian, Muhammad Ridwan, melakukan penyemprotan Insektisida di lahan milik Komariyah, petani asal Sumbersari, kemarin (18/11).
CANGGIH: Pilot drone pertanian, Muhammad Ridwan, melakukan penyemprotan Insektisida di lahan milik Komariyah, petani asal Sumbersari, kemarin (18/11).

SUMBERSARI, Radar Jember – Rendahnya minat petani dalam mencoba teknologi pertanian baru dinilai menjadi salah satu penghambat peningkatan produktivitas. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember, Soetriono, menyebut inovasi teknologi sering kali berhenti di level sosialisasi.

Akibatnya, petani tetap menggunakan cara lama meski teknologi yang lebih efisien sudah diperkenalkan.

Menurut Soetriono, karakter petani terhadap inovasi tidak sama. Ada sebagian kecil yang disebut adopter, yakni petani yang berani mencoba metode baru dan siap menanggung risiko. Kelompok ini biasanya berpikiran maju.

Namun sebagian besar petani lainnya masih ragu, baik karena takut gagal maupun tidak percaya pada alat atau cara baru.

“Mayoritas petani kita belum siap menerima begitu saja. Mereka butuh bukti nyata dulu,” katanya.

Karena itu, dia menilai pendidikan teknologi pertanian tidak cukup hanya dengan ceramah atau presentasi. Penyuluh harus menunjukkan contoh konkret di lahan.

Langkah pertama adalah demonstrasi langsung agar petani bisa melihat manfaatnya.

“Kalau hanya diberi penjelasan, mereka tidak yakin. Begitu melihat contoh dan hasilnya, responnya biasanya berbeda,” ujarnya.

Soetriono juga menekankan pentingnya melihat efisiensi lahan ketika memperkenalkan teknologi baru. Beberapa alat tidak efektif jika dipakai petani secara individu karena lahan terlalu sempit atau biaya tidak tertutup.

Maka diperlukan kerja sama antar kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan).

“Kalau satu petani saja yang menerapkan, terus lahannya cuma sepetak, ya tidak nutup. Tapi kalau kerja sama antar gapoktan, baru efisien,” jelasnya.

Sementara itu, Penyedia jasa drone pertanian, Muhammad Ridwan mengeluhkan hal serupa.

Menurutnya meski saat ini sudah ada sebagian petani yang rutin menyewa drone untuk penyemprotan pestisida.

Tetap saja banyak petani yang enggan mencoba penggunaan drone bahkan jika itu diberikan secara cuma-cuma.

“Bulan lalu kami mengadakan sosialisasi penggunaan drone untuk pertanian, disitu petani bisa mencoba penyemprotan drone secara gratis tapi tidak ada yang mau daftar. Paling yang daftar cuma ketua poktan sama penyuluhnya saja,” pungkasnya.(yul/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #Petani #UNEJ