Radar Jember - Modus perjokian ujian TOEFL di Universitas Jember berhasil digagalkan oleh Tim Cyber Unit Penunjang Akademis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK).
Aksi curang yang dilakukan di lingkungan akademik itu terendus setelah sistem keamanan kampus mendeteksi aktivitas jaringan mencurigakan saat pelaksanaan ujian di Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa.
Kepala UPA TIK Universitas Jember Prof Bayu Taruna Widjaja Putra mengungkapkan, sedikitnya empat orang tertangkap tangan dalam operasi tersebut.
Dua di antaranya merupakan mahasiswa aktif, sementara dua lainnya adalah alumni.
“Dari hasil pengecekan sistem kami, ditemukan adanya aktivitas jaringan yang tidak wajar,” ujarnya.
Menurutnya, kecurigaan muncul ketika sistem keamanan internal mendeteksi adanya anomali pada jaringan laboratorium yang digunakan untuk Computer Based English Proficiency Test (CBEPT).
Komputer peserta ujian diketahui diakses secara jarak jauh menggunakan akun mahasiswa lain yang ternyata menggunakan jasa joki.
“Setelah pelacakan, Tim Cyber langsung menuju lokasi sesuai trafik yang terdeteksi. Di sana kami menemukan para pelaku tengah beraksi,” jelasnya.
Penangkapan itu langsung ditindaklanjuti dengan koordinasi bersama pimpinan universitas.
Dari hasil pemeriksaan, para pelaku mengakui perbuatannya dan bahkan menyebut beberapa mahasiswa lain yang menjadi klien mereka.
“Kami tidak akan menoleransi tindakan yang mencederai integritas akademik Universitas Jember,” tegas Bayu.
Ia menegaskan, pihak kampus kini menyiapkan sanksi tegas tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga pengguna jasa joki.
“Mahasiswa yang terbukti menggunakan jasa tersebut sudah kami identifikasi. Selanjutnya, kasus ini akan kami serahkan ke Tim Etik Universitas untuk proses sanksi lebih lanjut,” tambahnya.
Ia menyebut, kasus ini bukan yang pertama.
Tahun lalu, Tim Cyber UPA TIK juga membongkar praktik serupa saat pelaksanaan Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
“Ini menjadi alarm bagi kami untuk terus memperkuat sistem keamanan dan proteksi data akademik,” katanya.
Selain menangani perjokian, UPA TIK juga memperkuat sistem forensik digital untuk mencegah kebocoran data mahasiswa.
Langkah ini diambil setelah muncul isu kebocoran data yang sempat beredar di media sosial beberapa waktu lalu.
“Kami sudah melakukan mitigasi dan investigasi digital agar kejadian serupa tak terulang,” ujarnya.
Pihaknya mengimbau civitas academica Unej agar lebih berhati-hati dalam aktivitas digital.
“Banyak kebocoran data berawal dari penggunaan aplikasi ilegal seperti judi online, pinjol ilegal, atau tautan media sosial yang tak jelas sumbernya. Jangan mudah tergiur tawaran instan yang bisa berujung pelanggaran hukum,” pesannya menutup pernyataan. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh