Radar Jember - Program penyaluran 22 ribu guru ngaji, guru kitab, dan modin dari Pemkab Jember tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penerima.
Namun tempat mereka mengajar seperti musala, masjid, hingga santri-santrinya, juga kecipratan berkah insentif Rp 1,5 juta ini.
Beberapa guru ngaji ini mengaku meski sudah mengajar puluhan tahun lamanya tanpa gaji, mereka merasa sungkan menggunakan sepenuhnya bantuan itu untuk keperluan diri sendiri.
"Alhamdulillah, bantuan ini mau saya pake untuk menunjang belajar mengajar di musala, untuk anak-anak. Sisanya untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kiai Irfan Asmuni, guru ngaji di Musala As-Sulaimany, Dusun Sumberejo, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan.
Di musalanya, Kiai Asmuni mengajar 83 santri.
Aktivitas ini ia tekuni sejak tahun 1993 silam hingga kini telah berusia 55 tahun.
Selama itu ia tidak pernah menarik pungutan untuk santri-santrinya.
"Saya usaha petani rumput dan peternak kambing, untuk menambal kebutuhan sehari-hari," imbuh dia.
Di desa sebelah, Dukuh Dempok Wuluhan, tak sedikit guru ngaji juga mengutarakan serupa.
Kepala Desa Dukuh Dempok Miftahul Munir mengapresiasi penyaluran honor ini karena berlangsung sangat humanis.
Bahkan, guru ngaji yang tidak bisa datang saat penyaluran, bantuan diantar langsung ke rumahnya.
"Ini sangat mengorangkan orang, kepada kiai, ustad dan ustadah. Tanda cinta bupati untuk para pejuang agama. Semoga berkat doa mereka Jember bisa lebih maju," kata Munir.
Masih di Kecamatan Wuluhan, tepatnya di Desa Lojejer, sejumlah guru ngaji juga mengutarakan rasa syukurnya atas bantuan ini.
Sebab, selain untuk keperluan sehari-hari, bantuan juga bisa dirasakan langsung manfaatnya bagi santri dan tempat mereka mengajar, di musala.
"Bantuan ini sangat membantu kami dan anak-anak yang mengaji, karena mayoritas guru ngaji mengajar tanpa bayaran," tambah M. Rihil Firdaus, guru ngaji di Ponpes Subilun Najah, Dusun Selakdoro, Desa Lojejer, Wuluhan. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh