Radar Jember - Program pemenuhan gizi kini tidak lagi hanya mengandalkan dapur mandiri.
Ormas besar seperti NU juga mengambil peran nyata dengan menghadirkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pesantren.
Kehadiran dapur modern ini memberi manfaat langsung bagi ribuan santri.
Sehingga mereka bisa menikmati menu bergizi seimbang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
PBNU meresmikan 42 SPPG sekaligus yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Karangharjo, Silo, Selasa (30/9).
Peresmian tersebut disertai penyaluran simbolis paket MBG untuk 50 ribu santri dari berbagai pondok pesantren.
Kehadiran SPPG ini menjadi tonggak penting bagi pesantren.
Tudak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi pesantren juga diharapkan menjadi pusat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan, langkah ini merupakan komitmen NU mendukung program MBG pemerintah agar cepat menyentuh sasaran.
Dia menyebut, hingga kini ada sekitar 500 yayasan, ponpes, dan sekolah di bawah naungan NU sudah terdaftar sebagai SPPG mitra Badan Gizi Nasional (BGN).
17 di antaranya sudah beroperasi.
“Kami sudah mengoperasikan 17 SPPG, dan hari ini (Selasa, Red) bertambah 42 lagi. Totalnya kini lebih dari 500 SPPG aktif,” ungkap Yahya.
PBNU menargetkan pembangunan 1.000 SPPG dalam jangka panjang.
Bagi Yahya, SPPG bukan hanya dapur umum, melainkan pusat produksi pangan yang mengelola beras, sayuran, hingga lauk pauk secara mandiri.
Dengan begitu, pesantren tidak lagi bergantung penuh pada pihak luar, melainkan turut menggerakkan kemandirian pangan nasional.
“SPPG bukan sekadar dapur umum. Kami ingin membangun kemandirian pangan bangsa,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hidayana.
Ia menilai kehadiran SPPG di pesantren mampu membangun ekosistem pangan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa tiga fungsi utama dapur ini adalah menyediakan gizi seimbang, menjaga kualitas pangan, dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Kita semua ingin membangun anak yang sehat, kuat, ceria, cerdas. Dan makan bergizi gratis menjadi bagian dari ekosistem itu,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum KH Hodri Arief, menambahkan, satu unit SPPG bisa melayani hingga 3.000 santri, bahkan menjangkau pesantren sekitar.
Pembangunan tiap unit SPPG rerata mencapai Rp 1,5 miliar, namun pesantren sama sekali tidak dibebani biaya.
“Pesantren tidak dibebani biaya. Skema nol rupiah dijalankan dengan mempertemukan pesantren dan mitra. Jika cocok, kerja sama dilanjutkan,” jelasnya.
Menurut Hodri, standar mutu juga diterapkan dengan ketat.
Distribusi makanan dibatasi maksimal 30 menit agar kualitas tetap terjaga.
Lalu setiap dapur melibatkan 47 pekerja yang bertugas secara bergantian untuk memastikan kelancaran layanan.
“Dengan disiplin, risiko keracunan dapat dicegah,” ungkap Hodri yang juga Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI NU) tersebut.
Sejumlah pesantren dari Jember, Jombang, Lumajang, hingga Sumenep turut hadir dalam peresmian ini, sekaligus menyambut optimisme atas program gizi berkelanjutan bagi santri. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh