Radar Jember - Berkompetisi pada ajang tertinggi di tingkat nasional merupakan mimpi setiap atlet daerah.
Apalagi bila berhasil membawa pulang medali.
Tentu akan menjadi kebanggaan tiada tara.
Itulah yang dirasakan Aryaputra Bagas Indratma Athaullah.
Setiap tarikan busur selalu punya cerita.
Begitu pula dengan Aryaputra Bagas Indratma Athaullah.
Siswa kelas 12 SMAN 1 Jember itu masih ingat betul bagaimana jemarinya kerap terasa pegal, tubuhnya lelah, bahkan pernah sakit karena terlalu sering berlatih.
Namun semua pengorbanan itu terbayar lunas ketika namanya dikumandangkan sebagai peraih dua medali perak di ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) di Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu.
“Kalau diingat-ingat, sampai mau nangis rasanya. Latihan keras tiap hari, tapi saya merasa harus menang,” kenang Arya sambil tersenyum.
Kecintaan Arya pada panahan berawal sejak ia duduk di bangku kelas 3 SD.
Sang ayah yang pertama kali mengajaknya mencoba olahraga yang mengandalkan ketenangan ini.
Sempat berhenti karena merasa sepi tanpa teman, takdir membawanya kembali saat SMP.
Kebetulan di sekolahnya ada kegiatan ekstrakurikuler panahan.
“Saya langsung ikut lagi, dan ternyata makin jatuh cinta,” ujarnya.
Berbeda dengan olahraga lain yang menuntut kecepatan berpikir dan bergerak, panahan justru mengajarkan Arya untuk lebih rileks.
Ketenangan, konsentrasi, dan kendali emosi menjadi kunci utama.
“Sekilas terlihat cuma menarik lalu melepas. Tapi, sebenarnya kompleks sekali. Harus bisa membaca arah angin, mengokohkan tubuh saat membidik, sampai mengendalikan emosi,” jelasnya.
Demi persiapan Forda dan Fornas, Arya benar-benar mengorbankan banyak hal.
Waktu les dan bimbel ia sisihkan.
Fokusnya hanya satu: latihan.
Hasilnya, ia membawa pulang medali emas di ajang Forda, lalu dua medali perak di kategori barebow standar umum beregu campuran dan barebow tradisi umum beregu campuran di Fornas.
Prestasi itu membuatnya bangga sekaligus ingin berbagi.
Arya berharap kelak bisa melatih atlet-atlet muda yang baru menapaki dunia panahan.
“Saya ingin ilmu ini bermanfaat. Untuk sementara fokus dulu sekolah dan ujian masuk kuliah. Kalau ada kesempatan, mungkin saya juga ingin mencoba kompetisi internasional,” pungkasnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh