Radar Jember – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Kukuh Pribadi, menilai media massa di era serbaefisien dan konvergensi saat ini harus segera beradaptasi.
Menurutnya, media tak bisa lagi hanya mengandalkan pemasukan dari iklan dan penjualan fisik.
Tentu juga perlu langkah kreatif agar tetap bertahan di tengah derasnya arus digital.
Media massa dituntut hadir di berbagai format, namun tetap harus menemukan model bisnis baru agar bisa bertahan.
Crowdfunding untuk proyek-proyek jurnalistik in depth maupun konten eksklusif bisa menjadi alternatif.
Pendekatan seperti ini juga akan menarik pembaca baru yang lebih loyal.
Kukuh Pribadi menegaskan, ketergantungan pada Google Ads sebagai sumber pemasukan utama bukanlah solusi jangka panjang.
Meski menjanjikan, persaingan ketat antar-media daring membuat pendapatan dari Google terpecah menjadi recehan yang tidak cukup untuk menopang biaya operasional besar.
“Jika media hanya mengejar klik, akhirnya kualitas jurnalistik terkesan seperti makanan cepat saji yang dibuat serampangan,” katanya.
Ia mengibaratkan media massa, khususnya Jawa Pos Radar Jember, harus menjadi restoran artisan.
Artinya, setiap berita disajikan secara eksklusif dan dimasak dengan cermat oleh para redaktur maupun jurnalis.
“Produk jurnalistik harus premium. Kalau hanya mengejar klik, pembaca akan jenuh. Jawa Pos dikenal dengan liputan mendalam dan analisis yang tajam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ia menilai Radar Jember memiliki keunggulan lokalitas yang bisa dimanfaatkan.
Dengan basis pembaca setia di wilayah Jember, Lumajang dan Bondowoso, kekuatan ini bisa menjadi modal besar untuk mengembangkan berbagai strategi kreatif.
“Misalnya membentuk komunitas pembaca yang juga dilatih menjadi kontributor lokal. Mereka bisa membantu pengumpulan data awal di lapangan, sebelum diolah lebih lanjut oleh jurnalis profesional,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar Radar Jember menghadirkan produk jurnalistik eksklusif berupa liputan mendalam atau indepth news yang hanya bisa diakses oleh pelanggan berbayar atau donatur tertentu.
“Crowdfunding juga bisa dicoba untuk membiayai liputan khusus, terutama isu-isu lokal yang diminati pembaca. Ini sekaligus bisa memetakan minat publik,” tambahnya.
Selain itu, juga bisa memanfaatkan event offline yang bersifat intimate.
Ia mencontohkan acara diskusi publik, talkshow, atau pelatihan yang menggandeng kampus maupun perusahaan lewat program CSR.
“Batasi peserta hanya untuk pelanggan berlangganan bulanan atau komunitas pembaca loyal. Cara seperti ini bisa memperkuat brand sekaligus menambah pemasukan,” sarannya.
Diakhir penjelasannya, Kukuh Pribadi menegaskan bahwa bertahan di era digital bukan hanya soal efisiensi, tetapi kreativitas dan inovasi.
“Media yang mampu membangun kedekatan dengan pembaca dan tetap mengutamakan kualitas jurnalistik akan selalu dicari. Jangan hanya mengejar viral, tetapi hadirkan karya jurnalistik yang bernilai,” pungkasnya. (dhi/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh