Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gen-Z dan Gen Alpha Harus Kreatif Merespons Ancaman Ketidakpastian Pasar Kerja, Dosen FEB Unmuh Jember Sebut Transformasi Digital Perlu Dikembangkan

Imron Hidayatullahh • Rabu, 7 Mei 2025 | 15:05 WIB
Pekerja di salah satu pabrik cerutu di Jember. (Dokumentasi Radar Jember)
Pekerja di salah satu pabrik cerutu di Jember. (Dokumentasi Radar Jember)

 

Radar Jember - Akhir-akhir ini, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menerjang berbagai wilayah di Indonesia.

Terutama daerah-daerah yang menjadi sentra industri garmen.

Gelombang PHK ini telah menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpastian di kalangan pekerja, termasuk di sektor-sektor penunjang lainnya.

Industri garmen yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja menghadapi tekanan berat akibat melemahnya permintaan global, kenaikan biaya produksi, dan ketidakpastian pasar.

Banyak pabrik yang akhirnya merumahkan sebagian besar karyawannya demi bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit.

Namun, di tengah badai PHK yang melanda, Kota Suwar-suwir justru menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan aman.

Kota ini diklaim tidak terlalu terdampak karena tidak memiliki industri garmen berskala besar yang bisa menimbulkan gelombang PHK masif.

Stabilitas ketenagakerjaan di Jember juga dipengaruhi oleh hubungan industrial yang dinilai harmonis antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

Komunikasi yang baik dan kesepahaman antara ketiganya menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif.

Meski begitu, kekhawatiran tetap menghantui kalangan mahasiswa.

Terutama mereka yang berada di tahap akhir pendidikan.

Ketidakpastian pasar kerja membuat banyak mahasiswa merasa cemas dan waspada terhadap tantangan yang akan mereka hadapi pascakelulusan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Prof Dr Haris Hermawan, mengungkapkan, generasi Z hingga generasi Alpha harus mulai berpikir kreatif dalam merespons situasi ini.

Ia menyarankan agar para lulusan tidak hanya menggantungkan harapan pada pekerjaan konvensional.

“Sektor-sektor seperti remote job, pertanian, dan perkebunan yang mengadopsi teknologi cerdas atau smart agriculture perlu dikembangkan lebih lanjut di wilayah Jember dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya transformasi digital di sektor industri kecil dan menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Transformasi ini akan memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan efisiensi usaha, yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru.

Ia menambahkan, perlu adanya kolaborasi antara empat elemen penting dalam pembangunan, yaitu akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, dan pemerintah.

“Konsep ini dikenal sebagai quadruple helix, yang bertujuan memperkuat ekosistem inovasi di daerah,” imbuhnya.

Salah satu usulan konkretnya, pembentukan marine science technopark, yang bisa menjadi pusat riset, pelatihan, dan pengembangan teknologi yang terintegrasi dengan kebutuhan pasar dan lingkungan sekitar.

Selain itu, pendekatan pembelajaran di perguruan tinggi juga harus berubah.

Mahasiswa harus dibekali dengan pengalaman langsung dalam memahami konsep dan keterampilan melalui praktik lapangan yang didampingi oleh mentor profesional.

“Model pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi multidisipliner sangat efektif untuk mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata bagi tantangan sosial dan ekonomi,” pungkasnya. (dhi/c2/nur)

 

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Unmuh Jember #Badai PHK #pasar kerja #transformasi digital