WONOJATI, Radar Jember – Banyak yang belum tahu kalau Kecamatan Jenggawah tidak memiliki kantor yang baik seperti 30 kecamatan lainnya.
Dari 31 kecamatan, 3 di wilayah Kota dan 28 Kecamatan di pinggiran, hanya Kecamatan Jenggawah yang tidak memiliki kantor yang representatif.
Hal ini karena pendapa kantor kecamatan itu ambruk saat proses pengerjaan belum selesai pada tahun 2019.
Kini kondisinya tetap mangkrak dan terbengkalai.
Bangunan pendapa Kantor Kecamatan Jenggawah itu ambruk pada Selasa, 3 Desember 2019 silam.
Saat itu, ada satu orang menjadi korban, yakni pekerja proyek dan harus dilarikan ke IGD Puskesmas Jenggawah karena mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan pendapa tersebut.
Dengan mangkraknya proyek pengerjaan Kantor Kecamatan Jenggawah itu, tentu saja warga Kecamatan Jenggawah sangat dirugikan.
Hal itu karena pelayanan tidak maksimal dan selama pelayanan harus menumpang di rumah dinas camat.
Selama ganti bupati dua kali, belum pernah ada tanda-tanda untuk diperbaiki.
Ada alasan karena pengerjaan proyek itu tidak sesuai tender atau menyalahi aturan, sehingga mengakibatkan pendapa ambruk saat proses pengerjaan.
“Kalau ini terus-menerus dibiarkan dan tidak ada perbaikan, warga yang dirugikan. Dalam hal ini pelayanan yang tidak maksimal,” kata Sugiartono, warga setempat.
Sejak Kantor Kecamatan Jenggawah ambruk pada 2019 silam, hingga saat ini fasilitas di kompleks pelayanan publik tersebut tidak pernah digunakan.
Mengingat, sejak pemerintahan Bupati Faida, beralih ke Bupati Hendy Siswanto, hingga berganti Bupati Muhammad Fawait, belum juga terlihat rencana perbaikan di gedung kantor kecamatan tersebut.
Apakah di era Bupati Fawait ini akan dibangun? Belum diketahui pasti.
Bahkan, kondisi saat ini, gapura Kantor Camat Jenggawah dipenuhi tumbuhan liar yang tumbuh subur di celah puing-puing bangunan.
Besi berkarat juga terlihat berserakan, kemarin (4/5).
Untuk pelayanan, karena pendapa dibiarkan mangkrak hingga 6 tahun ini, pelayanan untuk masyarakat justru dilakukan di rumah dinas Camat Jenggawah.
Aktivitas tersebut sudah berlangsung selama enam tahun terakhir.
Menurut Sugiartono, masalah mangkraknya pendapa Kecamatan Jenggawah sudah dilaporkan melalui Wadul Gus'e.
Bupati Jember Fawait sebagai bupati yang baru menggantikan Hendy Siswanto diharapkan dapat mengambil tindakan cepat segera membangun kantor kecamatan itu. Kalau perlu tahun ini.
“Selama 6 tahun pascaambruknya itu warga yang dirugikan. Yang jelas pelayanan juga tidak maksimal,” katanya.
Masyarakat tidak mau tahu dan tidak pernah mengurus, ambruknya kantor Kecamatan Jenggawah itu tanggung jawab kontraktor atau pemerintah.
"Tetapi yang masyarakat tahu, Bupati Jember selayaknya melakukan terobosan dan membangunnya. Sudah dua kali ganti bupati, bangunan ini tidak kunjung diperbaiki. Sementara warga Jenggawah juga membayar pajak, pelayanan tidak maksimal karena kantornya tidak seperti kantor camat lain. Harapannya segera bangun,” kata warga Wonojati tersebut.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, rumah dinas camat disulap menjadi ruang pelayanan.
Sementara di dalam bangunan ambruk, di sisi utara dipenuhi tumpukan baja dan beberapa pecahan batu bata dan genting.
Sementara gentingnya hanya tersisa setengah atap saja.
Seperti bangunan setengah jadi dan kini disebut warga mirip rumah hantu.
Camat Jenggawah Endro Lukito mengatakan, pelayanan kepada masyarakat diupayakan agar tetap maksimal.
“Namanya saja sudah di ruang yang sempit, yang penting pelayanan tetap berjalan. Semoga tahun ini ada perbaikan untuk pendapa Kantor Camat Jenggawah yang ambruk. Sehingga nantinya bisa melayani masyarakat secara maksimal,” kata Endro.
Hal senada juga disampaikan Sutikno, 40, warga Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah.
Menurutnya, dari 31 kecamatan, hanya Jenggawah yang belum punya kantor.
“Padahal yang ambruk itu sudah 6 tahun, sampai ganti dua bupati belum ada tanda-tanda perbaikan. Yang dirugikan ya pasti masyarakat,” jelasnya.
Lokasi pendapa Kantor Kecamatan ini sebenarnya sangat strategis.
Bangunan ini bersebelahan dengan Koramil dan berada di pinggir jalan.
Ketika ada pengguna jalan yang berhenti di lampu merah, bisa dengan leluasa melihat bangunan kantor camat yang ambruk.
Sayangnya, selama 6 tahun ini tidak ada yang mampu melakukan perbaikan.
Termasuk Pemkab Jember, belum bisa memperbaikinya.
“Ketika ada rapat dengan para kepala desa di Jenggawah, itu tidak punya tempat,” pungkas Sutikno. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh