Radar Jember – Terletak di Kecamatan Ambulu, sekitar 40 kilometer dari pusat kota Jember, Pantai Watu Ulo menawarkan pesona alam yang tak hanya memesona mata, tetapi juga menyimpan nilai historis dan budaya yang melekat kuat di masyarakat sekitar.
Nama ‘Watu Ulo’ yang secara harfiah berarti ‘batu ular’ berasal dari formasi batuan memanjang di tepi pantai yang menyerupai tubuh ular raksasa.
Keunikan ini menjadikan Pantai Watu Ulo tak sekadar tempat wisata, melainkan juga tapak sejarah dan legenda yang dipercaya turun-temurun oleh warga setempat.
Konon, batu yang menyerupai sisik ular itu merupakan bagian dari naga penjaga Pantai Selatan yang membeku menjadi batu karena kutukan.
Pantai ini memiliki garis pantai yang cukup panjang dengan kombinasi pasir hitam dan bebatuan khas.
Ombaknya cukup besar, sehingga wisatawan disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh.
Namun, bagi pecinta fotografi dan pemburu lanskap alam, Watu Ulo adalah surga tersembunyi dengan pemandangan dramatis, terutama saat matahari terbit.
Tak hanya menyajikan panorama laut, kawasan sekitar Pantai Watu Ulo juga menjadi tempat digelarnya tradisi adat Larung Sesaji, sebuah upacara syukur masyarakat pesisir yang diadakan setiap tahun pada bulan Suro dalam kalender Jawa.
Dalam ritual ini, warga melarung hasil bumi ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada alam sekaligus permohonan berkah dan keselamatan.
Keberadaan tradisi tersebut menambah nilai budaya yang tidak bisa dilepaskan dari destinasi ini.
Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Jember turut memanfaatkan momentum upacara adat tersebut untuk menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Akses menuju pantai ini terbilang mudah.
Dari pusat kota Jember, wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun empat dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
Infrastruktur jalan yang sudah cukup baik memudahkan perjalanan menuju kawasan wisata ini.
Fasilitas seperti area parkir, warung makan, dan penginapan sederhana juga tersedia di sekitar lokasi.
Beberapa tahun terakhir, Pantai Watu Ulo mulai berbenah.
Pemerintah setempat menggandeng masyarakat untuk mengembangkan kawasan wisata secara berkelanjutan.
Program pelatihan sadar wisata, pengelolaan sampah, hingga penguatan UMKM sekitar pantai menjadi bagian dari upaya kolektif menjaga potensi lokal.
Meski begitu, masih terdapat tantangan seperti kurangnya promosi digital dan pengelolaan yang profesional.
Diharapkan ada perhatian lebih terhadap promosi wisata ini.
Pantai Watu Ulo bukan hanya destinasi, melainkan cerminan harmonisasi antara alam, budaya, dan masyarakat.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa pesona Indonesia tak melulu tentang tempat-tempat populer, tetapi juga tentang cerita yang membentuk identitas suatu daerah.
Bagi para pencinta alam, budaya, dan petualangan, mengunjungi Pantai Watu Ulo bisa menjadi pengalaman yang lengkap dan berkesan.
Di balik debur ombak serta batuan menyerupai sisik ular itu, tersimpan kisah dan kekayaan yang menanti untuk terus diceritakan.
Penulis : Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi