Antisipasi terhadap kasus kecelakaan selama momen libur Lebaran di wilayah Jember perlu ditingkatkan. Utamanya jalur rawan laka yang sudah terpetakan. Satu titik ditetapkan sebagai kawasan black spot karena memiliki fatalitas tinggi.
MUHAMMAD HASBI – Radar Jember
TINGKAT fatalitas yang tinggi membuat Satlantas Polres Jember menetapkan jalan umum di sepanjang 500 meter kawasan Dusun/Desa Langkap, Kecamatan Bangsalsari, sebagai black spot atau jalur tengkorak.
Jalur penghubung Jember–Lumajang itu dilaporkan sudah menyebabkan delapan kasus kecelakaan sejak awal 2025. Terdapat sembilan korban luka-luka dan tujuh korban meninggal dunia (MD) dari sejumlah kejadian laka itu.
Kasat Lantas Polres Jember AKP Bernardus Bagas Simamarta menjelaskan, tingkat fatalitas tinggi menjadi alasan utama yang membuat kawasan jalan umum di wilayah Bangsalsari ditetapkan sebagai black spot.
“Hasil pemetaan, yang paling tinggi ada di daerah Bangsalsari. Jadi, di situ angka fatalitasnya yang cukup tinggi. Ini dari delapan kejadian kecelakaan itu tujuh orang MD,” paparnya.
Kontur jalan yang dominan memanjang lurus diakui menjadi alasan banyak kalangan berkendara dengan kecepatan tinggi. Secara bersamaan, kawasan itu menjadi titik ramai aktivitas penyeberangan masyarakat.
Selain masalah kesadaran berkendara itu, rambu-rambu peringatan juga diketahui cukup minim.
“Wilayah Bangsalsari itu juga dilaporkan mudah sekali membuat air menggenang. Jadi, kalau hujan sedikit lama itu surutnya agak lama. Jadi, ya, banjir gitu lah, ini juga bisa memicu kecelakaan. Nah, ini juga diperparah lagi saat ada banyak truk besar di sana yang kadang parkir di sebelah kiri jalan. Itulah yang bikin rawan kecelakaan,” tambahnya.
Selain di Bangsalsari, tambah dia, jalan yang patut diwaspadai pemudik adalah di Jalur Gumitir. Jalur yang berkelok, terdapat jurang, dan tebing tersebut cukup sering terjadi kecelakaan. Bahkan, kecelakaan tunggal juga kerap terjadi. Jalur penghubung Jember–Banyuwangi tersebut juga dikenal sebagai daerah rawan bencana. “Gumitir ini juga rawan bencana, tanah longsor hingga pohon tumbang,” paparnya.
Saat ada kejadian kecelakaan ataupun bencana longsor dan pohon tumbang, maka pemudik yang melintas di Gumitir akan terjebak kemacetan. Sebab, di Gumitir hanya ada satu jalan. Tak ada jalan alternatif. Oleh sebab itu, setiap tahun Gumitir selalu menjadi atensi pada momen mudik dan arus balik Lebaran.
“Potensi kecelakaannya antara Gumitir dan Bangsalsari itu sama. Tapi, kecelakaan di Gumitir yang meninggal dunia tidak sebanyak di Bangsalsari,” terangnya.
Menurutnya, tingkat kesadaran masyarakat tentang tata tertib lalu lintas yang rendah diakui perlu ditingkatkan sebagai upaya untuk menekan potensi kecelakaan di kawasan itu selama momen Lebaran. Upaya yang sudah disiapkan sebagai antisipasi dari kepolisian juga dilakukan dengan mendirikan delapan pos mudik Lebaran di kawasan Jember.
“Jadi, ini tingkat kesadaran yang kurang perlu ditingkatkan. Imbauan juga sudah sering disampaikan bagi pengendara agar tak meremehkan aturan. Minimal saat berkendara memakai kelengkapan seperti helm, jaket, sepatu yang bisa melindungi. Apalagi yang perjalanan jauh,” ungkapnya. (c2/dwi)
JALUR TENGKORAK
- Jalan Nasional Jember–Surabaya, tepatnya di Dusun/Desa Langkap, Kecamatan Bangsalsari.
JALUR RAWAN KECELAKAAN
- Jalan Nasional Jember–Banyuwangi, tepatnya di Gumitir, Kecamatan Silo.
-
Tips Mudik Aman, Keluarga Nyaman
Ø Sebelum berangkat pastikan kendaraan dalam kondisi prima.
Ø Jaga keamanan rumah dengan mengunci pintu, mematikan kompor sebelum mudik, dan menitipkan kepada tetangga/RT setempat.
Ø Patuhi aturan lalu lintas, jangan memaksakan diri saat lelah dan istirahat di rest area.
Ø Hindari mengemudi dengan pengaruh minuman beralkohol.
Ø Berhenti di tempat aman ketika perjalanan jarak jauh.
Ø Hindari berboncengan lebih dari tiga.
Ø Cek kelengkapan surat kendaraan sebelum mudik.
Ø Waspada terhadap kejahatan, hindari modus penipuan, dan melaporkan kejadian mencurigakan ke pos pengamanan terdekat atau call center Polri 110.
Sumber : Satlantas Polres Jember