RADAR JEMBER – Pulau Nusa Barong, yang terletak di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai dicanangkan sebagai destinasi wisata pada tahun 2021. Pulau ini memiliki luas sekitar 61 kilometer persegi atau 6.100 hektare.
Secara geografis, Nusa Barong didominasi oleh dataran tinggi yang cenderung tandus, sehingga sumber makanan di kawasan ini terbatas. Namun, pulau ini memiliki kekayaan alam berupa batu kapur serta pemandangan karang yang indah, dengan ketinggian mencapai 325 meter.
Di balik keindahan alamnya, Nusa Barong menyimpan sejarah panjang, terutama sebagai pusat ekonomi dan saksi pemberontakan pada masa Kerajaan Blambangan hingga zaman VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Pulau ini dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan sarang burung walet, yang menjadi komoditas berharga. Saat itu, penduduk setempat memanen sarang walet untuk dijual, sementara para pedagang, terutama dari China, menjadi pembelinya.
Namun, pola perdagangan berubah drastis ketika sarang walet digunakan sebagai alat politik. Penguasa Kerajaan Blambangan, Adipati Danuningrat, meminta bantuan VOC untuk mengusir pengaruh Kerajaan Mengwi dengan imbalan hasil sarang walet. Hal ini membuat VOC semakin terlibat dalam penguasaan sumber daya alam di wilayah tersebut.
Sebelum VOC masuk, Nusa Barong dikenal sebagai penghasil utama sarang burung walet yang diekspor ke China, dengan populasi penduduk mencapai 1.000 orang pada tahun 1772. Namun, sejak VOC mulai mengintervensi, produksi sarang walet terus menurun.
Fenomena bajak laut dan pedagang yang datang mencari sarang walet semakin memicu VOC untuk mengosongkan pulau tersebut pada tahun 1779. Mereka menggunakan berbagai cara, seperti membakar gua-gua tempat burung walet bersarang dan memasukkan belerang untuk mengusir burung-burung tersebut. Upaya ini membuat burung walet enggan kembali, sehingga produktivitas pulau tersebut tidak bisa pulih.
Editor : Radar Digital