Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ketika Jember Darurat Kriminalitas Tak Segera Teratasi, Bisa Terstigma Jadi Kota Begal

Radar Digital • Senin, 16 September 2024 | 22:38 WIB

 

 

RAWAN: Jalan bulakan Jatisari, Dusun Krajan, Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong sepi dan tidak ada PJU sehingga rawan begal saat malam.(JUMAI/RADAR JEMBER)
RAWAN: Jalan bulakan Jatisari, Dusun Krajan, Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong sepi dan tidak ada PJU sehingga rawan begal saat malam.(JUMAI/RADAR JEMBER)

Beberapa waktu terakhir, rentetan kasus begal dan pencurian marak terjadi. Publik kini mempertanyakan bagaimana upaya aparat menyikapinya agar Jember tak jadi “kota begal”.

MAULANA, Radar Jember.

DULU, Kabupaten Lumajang mendapat stigma miring sebagai “kota begal”. Lantaran maraknya aksi begal. Kini, stigma itu pudar. Ironisnya, stigma kota begal ini perlahan mulai tersematkan pada Kabupaten Jember, karena banyaknya kasus kriminalitas.

Ya, dalam beberapa pekan terakhir, Kota Pendidikan dan Pesantren ini ternodai dengan sejumlah kasus kriminalitas yang tiba-tiba menjamur.

Terutama kasus pencurian, perampokan, dan begal. Bahkan, begal yang beraksi cukup sadis dan benar-benar menjadi kasus paling membuat resah warga Jember. Kawanan begal ini bahkan menyasak sejumlah kecamatan. Jantung kota Jember jadi tak aman dari begal.

Demi merebut harta berharga dari mangsanya, para pelaku begal tak segan membawa senjata tajam (sajam) untuk melukai bahkan mungkin berniat membunuh korbannya. Seolah pelakunya juga beraksi tak kenal tempat dan waktu. Aksi kejahatan itu dilakukan secara terang-terangan, di tengah keramaian kota, hingga di siang bolong.

Di sisi lain, publik rupanya tak tinggal diam. Mereka mulai gencar mempertanyakan upaya aparat kepolisian atas maraknya begal di Jember.

Banyak yang menilai aparat lemah, sehingga gerak begal semakin luas. Warganet bahkan ramai-ramai me-mention akun media sosial Instagram Humas Polres Jember.

Jawa Pos Radar Jember mencatat, selama dua pekan terakhir, ada beberapa aksi begal dan pencurian. Pertama, pada Minggu (1/9) dini hari, kawanan begal motor beraksi di sekitar Jembatan Semanggi, di kawasan kota Jember yang dikenal tak pernah sepi. Pelaku diketahui tiga orang.

Mereka membacok dua korban yang tengah berboncengan menggunakan celurit, hingga korban terkapar berlumuran darah. "Terduga pelaku masih proses lidik," kata Kasat Reskrim Polres Jember AKP Abid Uais Al-Qarni Aziz, Kamis (5/9) lalu.

Kemudian, pekan lalu (9/9), Ditreskrimsus Polda Jatim meringkus dua pelaku curanmor asal Lumajang yang beraksi di Jember. Dalam kasus itu, satu orang yang perannya sebagai penadah masih menjadi DPO Polda.

"Ada belasan lokasi menjadi target. Komplotan itu biasanya memilih waktu sore menjelang Magrib untuk menjalankan aksinya," kata Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur, Rabu (11/9) lalu.

Ketiga, kasus begal yang menimpa emak-emak di Kencong bersama putrinya berusia 8 tahun. Mungkin, ini yang paling menguras emosi dan perasaan.

Demi mendapatkan motor korban, kawanan begal membabi buta membacok korban beberapa kali, di depan mata gadis kecil itu. Beruntungnya, putri korban lolos dari maut itu setelah ia dipaksa korban untuk melarikan diri terlebih dahulu.

"Anaknya, saat itu, langsung berlari ke utara dan berpapasan dengan pengendara sepeda motor,” kata Kapolsek Kencong Iptu Heru Siswanto, Selasa malam (10/9). Informasi yang dihimpun, di sekitar lokasi yang sama juga pernah ada kasus begal serupa. Namun, korban beruntung dan selamat, seusai mengunci setang motor dan kabur dari begal.

Kemudian, kasus pencurian ternak kambing yang dilakukan FIM, pemuda 30 tahun asal Dukuhdempok, Wuluhan.

Saat diringkus Polsek Wuluhan, pelaku yang baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai sopir ini mengaku terpaksa mencuri karena terlilit utang, dan demi menafkahi keluarganya.

"Uangnya (hasil jual kambing curian, Red) Rp 3 juta untuk membayar utang, beli sepeda ontel, dan untuk keperluan sehari-hari," aku FIM, Jumat (13/9).

Terbaru, kawanan maling sepeda motor, tiga orang, yang berakhir dengan timah panas Polsek Sukowono, Jumat (13/9), setelah beraksi di sejumlah kecamatan di Jember.

Dari tangan para pelaku, polisi mengamankan tujuh unit sepeda motor, kunci T, sajam, gerinda, linggis untuk mencongkel jendela, alat berat untuk membobol tembok rumah, dan lainnya. Ironisnya, dua dari tiga pelaku itu merupakan residivis.

"Dua pelaku berperan sebagai pencuri, satu sisanya sebagai penadah," beber Kapolsek Sukowono AKP Solikhan Arief.

Selain begal sadis dan pencurian, sejumlah kasus kriminalitas lain juga kerap terjadi akhir-akhir ini.

Polres Jember belakangan membuat seruan melalui pesan berantai dan media sosial, meminta masyarakat agar lebih berhati-hati dan melapor ke polisi apabila mendapati ada aksi kejahatan serupa.

Nah, efektifkah langkah itu? Mengingat, kasus begal bukan hanya terjadi belakangan ini, namun juga beberapa tahun terakhir, meski intensitasnya tidak sesering sekarang.

Namun demikian, aksi serupa itu juga tidak tertutup kemungkinan mengarah pada kejahatan kriminal luar biasa (extra ordinary crime). Mengancam calon korban lainnya, yakni 2,6 juta warga Jember, jika tidak ada langkah dan penindakan tegas dari aparat. (mau/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #begal