Era sekarang, tak mudah menemui orang tua tetap giat bekerja. Kadang, di usia 70-an sudah sakit-sakitan.
Nah, di Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, ada warga bernama Miskan yang tetap tekun menjalani pekerjaannya di usianya yang tak lagi muda.
JUMAI, AMPEL, Radar Jember.
PENGGUNA jalan yang biasa melintas di jalan raya Kecamatan Wuluhan menuju Kecamatan Puger bisa saja tidak asing dengan Mbah Miskan.
Maklum, pria 80 tahun ini hampir setiap hari menghabiskan waktu di gubuk tempatnya jualan anyaman dari bambu.
Mbah Miskan hidup bersama Ponirah, istrinya. Dia menjual barang produksinya di gubuk pinggir jalan.
Sementara istrinya tetap di rumah dan membantu penjualan anyaman bambu di rumah.
“Saya usaha ini sudah lama sekali,” ucapnya.
Anyaman bambu produksi Mbah Miskan ini bisa dibilang variatif. Seperti tempat nasi, tampah, cikrak sampah, kurung ayam, caping atau topi untuk ke sawah. Harganya terjangkau, mulai dari Rp 15 ribu, Rp 20 ribu, hingga yang termahal Rp 30 ribu.
Selain mempunyai usaha berjualan di gubuk yang hanya berukuran 1,5 x 2,5 meter, Kakek Miskan juga menanam sayur di pinggir jalan sekitar gubuk yang dipakai untuk memajang barang yang dijual.
Tidak semua tanaman sayur dijual atau dibawanya pulang. “Kalau memang ada yang membeli silakan. Tetapi, kalau ada yang minta, kadang saya kasih,” ucapnya.
Mbah Miskan dan istrinya menanam sayur seperti terong, kacang panjang, kenikir, ketela pohon, dan jenis lain.
Sayur itu juga dipupuk agar tanaman itu tumbuh subur. Sesekali, pada musim kemarau ini Mbah Miskan juga harus menyiramnnya.
Setiap pagi setelah mengeluarkan barang yang dijual, dia harus mencari air dengan berjalan kaki untuk menyiram tanamannya.
Si kakek berjalan sambil membawa dua timba ukuran sedang, melewati pematang sawah untuk mengambil air di sumur petani.
Saat Jawa Pos Radar Jember melihat dari jauh, Mbah Miskan dengan rambut yang memutih itu masih cukup kuat berjalan sambil menyusuri pematang sawah dengan dua timba berisi air. “Air ini untuk menyiram tanaman sayuran, karena lama tidak hujan,” ucapnya.
Air itu juga dipakai untuk mencuci piring dan sendok setelah makan di gubuk. Dia mengaku setiap hari membawa bekal nasi dari rumah. Masakan istrinya. Ada pula kesukaan banyak orang, yaitu kopi dan singkong rebus.
Dia pun menawarkan bekal yang dibawa dari rumah untuk dimakan bersama. “Ayo, kalau mau makan, kita bagi dua,” kata. Kata kakek yang setiap hari datang ke gubuk tempat jualan pukul 07.00 dan pulang sekitar pukul 17.00 itu.
Dikatakan, dia pantang mengemis atau menggantungkan hidup kepada orang lain. Semangat kakek ini perlu ditularkan kepada para pemuda maupun warga yang biasa mengemis di traffic light. “Kalau masih bisa, berusaha mencari uang sendiri, yang penting mesyukuri hasil kerja yang didapat,” ucapnya. Dia pun yakin, rezeki datang dari Allah dan manusia hanya bisa berusaha.
Semua barang yang dijual itu ditinggal dalam gubuk bambu dengan atap genting itu. Bahkan, beberapa kali ada barang yang ketinggalan di luar gubuk. Dibawa oleh warga untuk diamankan dan keesokannya dikembalikan lagi.
“Ya, namanya rezeki, pasti ada saja yang beli,” katanya.
Tetapi, di balik kesabaran Mbah Miskan, masih saja ada yang menipunya.
Sang penipu kadang mengaku sawah di depan gubuknya itu milik si penipu. Mereka mengaku kehabisan uang untuk membeli pupuk dan mengaku kepepet untuk membeli benih padi.
Mbah Miskan percaya, dan pernah tertipu Rp 500 ribu.
“Sampai sekarang tidak kembali lagi. Ngakunya punya sawah di sini,” kata Mbah Miskan. Dia pun hanya bisa pasrah serta mendoakan si penipu agar sadar dan tobat. “Mudah-mudahan Allah mendengar dengan ucapan saya,” katanya.
Mbah Miskan mengaku, dia akan terus menjual anyaman bambu sambil menanam sayuran di sekitarnya.
Dia tak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain, apalagi mengemis. “Kalau pas lewat dan ada sayuran, silakan mampir. Nanti saya bawakan sayuran,” ucapnya. Setelah itu, kakek ini beraktivitas lagi. Menjelang Magrib ia harus pulang ke rumahnya dengan jarak sekitar dua kilometer. (c2/nur)
Editor : Radar Digital