PATRANG, Radar Jember – Viralnya ibu yang melahirkan seorang diri di pinggir jalan tepatnya di Desa Jambesari Kecamatan Sumberbaru, menuai aksi simpatik dari Dewan Pengurus Cabang (DPC) Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Jember. Kamis (21/12), Apdesi Jember menuntut perbaikan pelayanan kesehatan di Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember.
Ketua Apdesi Jember, Kamiludin, menyampaikan tujuh point tuntutan yang disampaikan pada Dinkes Jember. Apdesi meminta Dinkes mengaktifkan kembali Pustu, Ponkesdes, dan Polindes di seluruh desa. Miminta melakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja puskesmas samai jajaran dibawahnya. “Evaluasi ini sangat penting untuk dilakukan, sampai kedasarnya jadi tidak hanya di atasnya saja yang di evaluasi,” terang pria yang akrab disapa Mas Kades itu.
Selanjutnya yakni terkait akses penggunaan ambulan desa, yang dianggap selama ini sangat sulit untuk digunakan warga miskin. Berkaitan dengan kasus ibu melahirkan itu, Kamil menyebut bahwa ibu tersebut kesulitan dalam menggunakan ambulan desa. “Akhirnya terpaksa suaminya harus menggunakan sepeda,” ucapnya, saat audiensi bersama dengan Dinkes di Aula Dinkes Jember.
Tuntutan lain yang juga disampaikan oleh Apdesi yakni permasalahan supir ambulan desa yang rata-rata bukan berasal dari warga setempat. Sehingga hal itu menyulitkan warga ketika dalam kondisi darurat untuk menggunakan mobil ambulan. Maka dari itu, Apdesi meminta agar dilakukan pergantian sopir ambulan yang rekomendasi sopirnya wajib dari kepala desa setempat. “Karena yang paham situasi dan kondisi ini kan kepala desa, bukan pihak di luar dari desa,” jelasnya.
Apdesi juga menilai, selama ini kepala Dinkes dan jajarannya terlalu sering di kantor. Sehingga Apdesi meminta agar Kepala Dinkes beserta jajarannya dapat sering melakukan monitoring ke lapang untuk mengetahui permasalahan real yang terjadi dilapangan. “Sehingga diharapkan, antara Dinkes dan kepala desa ke depan bisa saling berkoordinasi terkait persoalan kesehatan. Jangan anti kritik apalagi suudzon terhadap kepala desa,” jelas Kamil panggilan akrabnya.
Permintaan terakhir dari Apdesi yakni meminta kepada Dinkes untuk menaikkan honor SDM perawat dan bidan. Seperti yang diketahui hingga saat ini kesejahteraan para nakes apalagi mereka yang honorer jauh dari kata Sejahtera. Padahal jika dilihat tugas dan kewajibannya sangatlah berat dan mulia.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinkes Jember dr Hendro Soelistijono, menyebut pihaknya terbuka akan kritik dan saran dari Apdesi memberikan apresiasi yang luar biasa kepada para kades karena telah peduli terhadap pelayanan kesehatan di Jember. Dinkes Jember akan melakukan pembenahan dan penelusuran lebih lanjut. “Karena ini adalah bentuk saran yang konstruktif, tentunya untuk memastikan pelayanan yang bermutu dan aman, kami akan melihat secara langsung kondisi yang terjadi,” terangnya.
Terkait dengan pustu yang ada di Jember, dr Hendro menyebut dulunya pustu dibentuk ketika semua desa tidak ada petugas kesehatannya. Pustu membawahi sekitar 4 desa yang sekeliling aksesnya jauh dari puskesmas. Dengan perkembangnya zaman sekarang tiap desa ada perawat dan bidan sehingga kunjungan di pustu semakin menurun.
Hal itu yang dipandang Dinkes telah mengurangi efektifitasnya dan beberapa petugas pustu telah turun langsung di desa-desa. Di Jember, tidak semua pustu kosong, tetapi memang untuk pustu yang memiliki kunjungan rendah tentunya akan merugikan dalam proses pembiayaan. Hendro menyebut akan menampung seluruh kritik dan saran dari Apdesi untuk perbaikan layanan kesehatan di Jember lebih baik lagi. (cad/nur)
Editor : Radar Digital