https://radarjember.jawapos.com/pemerintahan/31/10/2022/dishub-jember-perbarui-jalur-khusus-sepeda-ini-rutenya/
Keberadaan jalur khusus untuk sepeda ini tentu disambut baik, karena untuk mengampanyekan bike to work. Sekaligus mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor. Sayangnya, tidak sedikit pula masyarakat hingga politisi yang menyayangkan jalur hijau khusus pesepeda itu kurang presisi dan justru membahayakan pesepeda.
"Jalur sepeda yang sekarang sudah lumayan, karena berada di kiri. Kalau dulu masih di sebelah kanan, itu membahayakan," kata Akmal Fauzan, pesepeda dari komunitas Bike to Work Jember.
Sebenarnya ia mengapresiasi apa yang menjadi upaya pemkab dengan menyediakan lajur khusus pesepeda itu. Jalur sepeda itu menurutnya sudah lama diidam-idamkan oleh para pencinta sepeda. Namun, ia masih tidak habis pikir, mengapa posisi jalur sepeda itu justru berada di belakang area parkir kendaraan.
Paling mencolok terlihat di Jalan Sultan Agung. Selain itu, di Jalan Ahmad Yani, posisi jalur sepeda sudah hampir menyatu dengan parkir kendaraan. Bahkan dalam beberapa kesempatan terlihat masih ada mobil atau motor parkir tepat di jalur sepeda. Penempatan posisi seperti itu membahayakan pesepeda. "Terpenting saat ini jalur khusus sepeda ada dulu. Persoalan berdempetan dengan parkir kendaraan, bisa disesuaikan nanti," katanya.
Jalur khusus bagi sepeda itu sebenarnya sudah ada sejak 2015 lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, jalur tersebut tidak digunakan lagi karena marka telah memudar. Terlebih, tiadanya rambu-rambu untuk melindungi pesepeda juga semakin menambah sederet masalah tambahan. "Penempatan memang kurang pas. Kalau di belakang kendaraan itu agak menengah, membahayakan pesepeda juga," kata Agusta Jaka Purwana, anggota Komisi C DPRD Jember.
Menurut Agusta, selama ini pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan Jember tidak pernah membicarakan perihal rencana pembuatan marka jalur sepeda itu. Komunikasi pun tidak pernah. Karena itu, ketika jalur sepeda itu sudah digarap, justru memunculkan kekhawatiran nirguna alias muspro, karena alasan keselamatan.
Jika berkiblat ke kota-kota besar yang sudah memberlakukan jalur sepeda khusus, lanjut Agusta, penataannya berada sejajar di tempat pengguna jalan atau trotoar. Sehingga menjamin keamanan bagi penggunanya. Berbeda dengan yang ada di Jember. "Di Jember, trotoar kita saja belum sepenuhnya steril, dan lagi banyak kantor, toko, atau rumah, yang tidak memiliki area parkir sendiri atau basement," urai Agusta.
Agusta berpendapat, jika faktornya karena sempitnya badan jalan, seharusnya parkir kendaraan diatur sejajar dengan trotoar. Bukan posisi miring atau diagonal seperti yang ada sekarang. Malah jika merujuk pada posisi jalur yang ada saat ini mengindikasikan bahwa pengadaan jalur sepeda itu terkesan asal jadi. Oleh karenanya, wajar jika kemudian membuat pesepeda kurang merasa aman karena terlalu ke tengah.
Ia juga menyayangkan, mengapa sebelum jalur sepeda itu dibuat tidak ada simulasi, atau pengkajian di forum focus group discussion (FGD). Agar ketika dieksekusi bisa membuahkan hasil yang maksimal. "Harusnya dulu sebelum dibuat itu dilakukan FGD, libatkan komunitas-komunitas sepeda. Jadi, bisa diketahui mana kelemahannya dan apa yang dievaluasi," tukas legislator Demokrat itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya sempat menyebut bahwa marka jalur khusus sepeda itu bertujuan memberikan ruang dan kenyamanan bagi pengguna sepeda. Namun, karena marka itu tidak terpisah atau tidak diberi sekat jalan, pengendara sepeda motor maupun mobil dapat menggunakannya pada keadaan tertentu. "Jaminan penggunaan jalur sepeda masih terus ditinjau perkembangannya. Tidak tertutup kemungkinan akan ada sanksi yang diberlakukan bagi pelanggar pada penggunaan jalur khusus sepeda itu," katanya.
Agus juga meyakini adanya marka jalur khusus sepeda itu dapat meningkatkan minat masyarakat untuk beralih menggunakan sepeda dalam beraktivitas. "Sosialisasi sudah, jalurnya juga sudah. Kami berharap dapat menarik minat dan antusiasme untuk menggunakan sepeda," tukas Agus.
Jurnalis: mg2, Maulana
Fotografer: Jumai
Editor: Muchammad Ainul Budi Editor : Maulana Ijal