BACA JUGA : Lombok Terendam Banjir Bikin Petani Rugi Puluhan Juta Rupiah
Kasus terbaru yang sempat merenggut nyawa juga terjadi di Panti. Setidaknya ada tiga warga yang meninggal dunia pada awal tahun 2022. Selain itu, Perumahan Bumi Mangli Permai (BMP) juga sempat diterjang banjir lantaran tanggul jebol. Di tempat-tempat lain, banjir juga terjadi. Termasuk musibah tanah longsor juga kerap terjadi di Jember.
Seperti diketahui, wilayah Kecamatan Panti termasuk dataran tinggi jika dibandingkan dengan beberapa lokasi lain. Namun, ada hal aneh mengapa banjir kerap terjadi di Panti. Ini menandakan adanya hal yang kurang tepat dan bisa terjadi tidak secara alami. Bisa jadi disebabkan oleh hutan yang gundul, sungai di hulu yang kotor, atau justru karena penyebab lain. Atau karena intensitas curah hujan yang tinggi. Keanehan inilah yang menjadi PR besar bagi pemerintah. Baik pemerintah daerah maupun pusat.
Sementara, di dataran yang lebih rendah, yakni di Perumahan BMP, Kecamatan Kaliwates, juga sempat dihantam banjir. Meskipun air yang meluap akibat tanggul jebol tidak sampai makan korban jiwa. Penyebab banjir BMP juga perlu menjadi perhatian serius, karena kondisi geografisnya tidak sama dengan yang ada di Panti. Bisa jadi, penyebab banjir Perum BMP karena sungai yang dangkal, atau justru bangunan tanggul yang kurang kuat. Kasus plengsengan sungai jebol juga kerap terjadi di Kecamatan Tanggul. Sementara, beberapa kawasan lain juga ada yang kerap menjadi langganan banjir. Termasuk genangan air yang sampai masuk rumah warga.
Menurut Sahroni, warga Panti, banjir bandang yang terjadi di Panti memang perlu digali, agar banjir tidak terulang lagi. Dikatakan, kawasan Panti masih termasuk dataran tinggi. Namun, justru kerap dihantam banjir. “Bisa jadi daerah aliran sungainya yang kotor, atau di hutan-hutan sudah jarang pohon,” tuturnya.
Sementara itu, Febby Asma Firmansyah, warga BMP, menyebutkan, saat banjir terjadi di perumahan itu, dia dan keluarga tidak di rumah. “Saya bersama istri dan anak saya sedang di daerah Kaliwates. Setelah banjir saya langsung bergegas ke rumah,” ujarnya.
Namun, rumahnya tak luput dari genangan air dan lumpur. Beberapa barang di dalam rumah rusak. Rumahnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari tanggul yang jebol. Meskipun terlihat tidak terlalu dekat, namun dampak sangat dirasakan warga BMP. “Barang-barang elektronik seperti televisi pun rusak karena banjir. Di rumah tersisa beberapa barang seperti dipan, kasur, kulkas, dan beberapa berkas dokumen,” katanya.
Pria berusia 34 tahun tersebut menjelaskan, bantuan pemerintah saat itu tergolong cepat. Bupati Jember Hendy Siswanto bersama rombongan juga langsung turun ke lokasi banjir. Bantuan seperti makanan, minuman, diaper, susu, uang, hingga bantuan untuk membangun rumah seperti semen juga diberikan beberapa waktu kemudian.
Saat ini pun sebagian warga BMP merasa waswas jika terjadi hujan lebat. Mereka waspada karena Sungai Semangir dekat perumahan tersebut sempat membuat tanggul sungai jebol. “Kami harap tidak ada lagi peristiwa banjir di BMP maupun di Jember,” katanya.
Sementara itu, banjir kini juga menerjang sejumlah sekolah. Salah satunya di SDN Jember Lor 5. Sekolah itu setidaknya dihantam banjir dalam dua tahun terakhir. Iwan Sugiarto, saksi bencana banjir, menceritakan, setiap hujan turun dengan durasi lebih dari dua jam, dia mulai berpikir untuk mengamankan barang-barang berharga yang ada di ruang sekolah. Sesekali juga mengamati kenaikan debit air yang mulai memasuki halaman sekolah. "Sudah bingung saya, langkah pertama, saya amankan dulu barang-barang berharga di kantor," katanya.
Setelah diamati, banjir itu datang karena Pasar Kreongan dan jalan raya yang lebih tinggi. Sementara itu, tidak terdapat saluran drainase yang memadai. "Dari tahun 2021 sampai 2022 sudah tiga kali banjir," tandasnya. Iwan menyebut, air cepat surut setelah membuat saluran buatan, meskipun tidak maksimal.
Menurutnya, sejauh ini upaya mitigasi yang dilakukan hanya membuat saluran drainase sederhana. Bahkan ketika hujan deras, belum tentu mencegah banjir. Namun, setidaknya dapat mempercepat surutnya air. Dia pun berharap agar hulu dan hilir sungai menjadi perhatian, termasuk di lokasi-lokasi yang rawan bencana.
Sementara itu, di beberapa lokasi pada musim hujan kali ini juga sudah terjadi tanah longsor. Seperti di Jalur Gumitir, Kecamatan Silo, di Dusun Krajan, Desa Jambesari, Sumberbaru, dan di jalur Gunung Pasang. (mg1/mun/c2/nur) Editor : Safitri