Reformasi tahun 1998 belum hilang dari ingatan banyak orang. Peralihan kekuasaan di Indonesia saat itu membuat media massa mengepakkan sayapnya. Tak lama setelahnya, Jawa Pos Radar Jember berdiri. Salah satu promotornya adalah Ahmad Wahyudi, warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari.
AHMAD MA'MUN, RADAR JEMBER
***
KORAN Jawa Pos Radar Jember pagi itu dipromosikan Ahmad Wahyudi. Dia bekerja meloper dengan ikhlas, penuh semangat, dan tidak mudah suuzon. Puluhan tahun menjadi loper, dia telah menuntaskan kewajiban pendidikan bagi putra-putrinya hingga lulus dari kampus Unej Jurusan Hubungan Internasional.
Setiap hari, Yudi menghabiskan separo harinya di Perempatan Sukorejo atau yang sekarang bernama Karangrejo. Lokasi itu masih termasuk wilayah rumahnya. Tak perlu keluar keringat untuk berjalan kaki dari rumahnya ke perempatan. Dia berjualan koran bertahun-tahun di perempatan itu. Dulu, banyak koran yang dia jual. Tetapi, sekarang hanya Jawa Pos Radar Jember.
Kepada setiap warga dan pengendara yang melintas, Yudi selalu menawarkan berita hangat Jawa Pos Radar Jember. Siapa sangka, sebagian orang yang biasa melintas di perempatan tersebut telah menganggap dia sebagai saudara. Oleh pengendara, dia dikenal dengan sebutan "Yudi Loper Radar Jember" sebuah julukan yang datang tanpa dimintanya. Bahkan belum tentu dimiliki orang lain.
BACA JUGA: Kisah Aziz Kuswoyo, Puluhan Tahun Setia Jadi Loper Koran Radar Jember
Pria kelahiran 1976 itu mempunyai banyak pelanggan harian di perempatan. Saat para pengendara berhenti menunggu lampu merah, di sana mereka memainkan lampu kota kendaraannya untuk menyapa Yudi. Hal demikian sebagai tanda bahwa pengendara itu akan membeli koran yang dibawanya. Dengan pelanggannya, dia sudah biasa memberikan koran Radar Jember dan menarik bayarannya di kemudian hari.
"Yang penting jangan suuzon, saya percaya kepada para pengendara bahwa mereka akan bayar. Selama ini ada yang satu tahun sekali bayarnya. Ada yang 2 bulan sekali, ada yang sebulan sekali," terangnya saat ditemui di Perempatan Karangrejo. Modal itu yang membawanya sedikit demi sedikit meraih kejayaan. Di antaranya keberhasilan dia menyekolahkan putra-putrinya sampai menjadi sarjana. Dari hasil meloper, tidak hanya keluarga yang tercukupi, namun anaknya bisa merasakan pendidikan sebagaimana pemuda-pemuda umumnya.
Yudi dikaruniai lima orang anak, yang paling tua telah dinyatakan lulus dari Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Jember. Lalu, anaknya menikah dengan orang India dan menjalani kehidupan di sana. "Anak saya baru menikah, insyaallah tahun ini pulang ke Indonesia," imbuhnya. Anaknya pun mempunyai pekerjaan yang mapan, menjadi pemandu wisata internasional. Capaian ini memantik rasa haru bagi Yudi, karena keberhasilannya mendidik sang anak.
Sementara itu, anak-anaknya yang lain masih menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Jember dan SDN 1 Jember Lor. Prinsipnya, apa pun yang menjadi keinginan putra-putrinya, pasti dia upayakan sekeras mungkin. Salah satunya dengan meloper koran. "Setiap sore saya ngantar anak saya ikut klub badminton. Biayanya 200 ribu per bulan. Alhamdulillah, diberikan kecukupan rezeki, terutama dari koran ini," ujar pria 46 tahun itu.
Semua itu dia peroleh dari bertahun-tahun meloper koran Radar Jember. Dari pagi hingga siang hari dia berada di Perempatan Karangrejo. Sampai mempunyai pelanggan sendiri, disenangi oleh banyak orang. Dalam hidupnya, dia sangat berharap putra-putrinya bisa berprestasi. Itu sudah cukup membayar jerih keringatnya selama ini. "Saya sekolahkan mereka, ya pintunya dari loper ini. Saya hanya memberikan dorongan saja, dari keinginan dan cita-cita mereka semua," pungkasnya. (*)
Foto : Ahmad Ma'mun
Editor: Nur Hariri Editor : Maulana Ijal