Rizki Dianita Malay, pengelola Taman Salero Padang menjelaskan cikal bakal rumah makan yang berlokasi di Jalan Wijaya Kusuma, Kelurahan Jemberlor, Kecamatan Patrang ini. Usaha itu berangkat dari cerita ayahnya yang sempat gulung tikar saat usaha pakaian. Sang ayah yang merupakan pendatang dari Minang, sempat berencana ingin kembali ke kampung halaman. Namun dicegah oleh kawannya dan dianjurkan untuk membuka usaha di bidang kuliner. “Karena usulan itu, kemudian papah saya jualan masakan padang di warung kecil, dulu masih di Jalan Jawa,” ungkap putri bungsu pendiri Taman Salero tersebut.
Meski hanya warung kecil, warung makan tersebut tak pernah sepi pengunjung. Saat itu memang hanya ada satu-satunya di Jember. Di tengah usahanya yang terus tumbuh, rumah makan itu kemudian dikembangkan dengan berpindah lokasi. Dipilihlah lokasi di tengah jantung kota, tepat di sebelah kiri Masjid Al-Baitul Amien Alun-alun Jember. “Sempat juga memiliki cabang di Situbondo. Namun sulit mengolahnya, akhirnya ditutup,” kenangnya.
Ayah Rizky pun memilih untuk konsisten berjualan di sekitar jantung kota demi tetap mempertahankan pelanggannya. Namun, perasaan dilema selalu ada saat mengingat bahwa lahan di warung tersebut hanya bisa disewa, alias tidak boleh dibeli. Sebab lahan tersebut masih milik masjid. “Karena kita ingin di tempat yang sekiranya menetap, ada lahan kosong di samping stasiun, akhirnya dibangunlah di sana,” imbuh perempuan 34 tahun tersebut.
Kini, bangunan rumah makan itu masih berdiri kokoh. Cukup ikonik dengan desain atap khas Minang. Ya, sesuai dengan namanya, Taman Salero, yang bermakna tempat untuk menyalurkan selera makan. “Dari awal memang taman salero. Taman itu artinya menyenangkan, salero itu selera. Jadi tempat menyalurkan selera,” pungkasnya.
Jurnalis: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Maulana Editor : Maulana Ijal