Menurut Kades Pakusari Misjo, cerita rakyat yang beredar, bukit kembar tersebut dulunya merupakan sebuah makanan kenduri atau berkat yang diperoleh seseorang seusai mengikuti pengajian. "Gunung itu dulunya sebuah berkat yang sengaja ditinggal oleh seorang wali, atau tokoh agama di Pakusari," tuturnya.
Di Desa Pakusari yang saat itu masih belum diberi nama, dulunya terdapat salah satu tokoh agama, namanya Ki Demen, yang sangat disegani dan dijadikan imam oleh masyarakat sekitar. Sebagai seorang yang berpengaruh, ia sering memimpin pengajian dan tahlilan di rumah-rumah warga.
Seperti di desa lainnya, tradisi kenduri di desa ini juga turut diterapkan. Yakni, setiap pulang pengajian, warga biasanya mendapat nasi berkat untuk dibawa pulang. "Zaman dulu, setiap ada acara keagamaan mesti dapat berkat. Begitu juga Ki Demen. Apalagi statusnya sebagai imam," imbuhnya.
Pada suatu waktu, seusai dari pengajian, Ki Demen pun mendapatkan dua buah berkat dari tetangganya. Dua berkat tersebut ia bawa dengan pikulan bambu sambil berjalan kaki, layaknya penjual lontong balap. Saat di perjalanan, dirinya tiba-tiba kelelahan dan berhenti di tengah persawahan.
Dari kejadian tersebut, akhirnya berkat itu dibiarkan begitu saja. Tertancap dengan bambu disertai paku di tanah desa areal persawahan itu. Seiring berjalannya waktu, berkat tersebut ditumbuhi rerumputan dan pohon yang lebat. "Di tengah-tengah gunung itu kan ada tertancap pakunya. Dari sana juga, desa ini dinamai Pakusari," papar Misjo.
Gunung tersebut kemudian diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penghidupan warga sekitar. Warga sekitar pun merespons dengan baik. Mereka memanfaatkan tanah di bukit untuk menanam berbagai macam tanaman. Termasuk pohon buah-buahan seperti jambu mete dan durian. "Jangan heran kalau Gunung Sepikul terkenal dengan pohon jambu monyet," ujarnya.
Jurnalis: DELFI NIHAYAH
Fotografer: DELFI NIHAYAH
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal