Padahal, kuah pedas yang diracik memiliki banyak bahan cabai. Dalam 30 liter air dicampur dengan lima kilogram cabai halus dan dua kilogram cabai yang masih utuh. Tidak diiris maupun dihaluskan. “Jadi, per 30 liter air cabainya sampai tujuh kilogram,” ungkapnya.
Vita mengaku, varian kuah pedas ini terinspirasi dari hidangan bakso Malang. Ia merasa di Jember belum ada yang menyajikan hidangan kuah pedas. Ia pun mulai meniru dengan memodifikasi dari segi komposisinya.
Sedangkan untuk kuah bakso original, nyaris sama dengan kuah bakso pada umumnya. Warnanya tidak utuh jernih layaknya kuah bakso Solo. Kuahnya gurih lekat dengan aroma bawang. Cita rasa kaldunya sangat menonjol. Pengunjung dapat memilih jenis varian kuah bakso. Jika tidak begitu suka dengan cita rasa pedas, pengunjung dapat memilih kuah original. Begitu sebaliknya.
“Saya tidak mau mengubah cita rasa kuahnya. Ini memang khasnya sini. Beda dengan kuah bakso Solo yang cenderung bening. Kami banyakin bawang biar cita rasa gurih dan sedapnya menonjol,” pungkas Vita.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal