Nah, kios Nasi Goreng Cak Di ini menjadi satu-satunya stan nasi goreng yang berada di kawasan Pasar Patrang. Sekaligus satu-satunya stan nasi goreng yang buka hingga dini hari. Sugiarto mengatakan bahwa nasi goreng ini bakal lebih banyak pengunjungnya manakala hari makin larut.
Mayoritas pembelinya cukup beragam. Di antaranya para sopir yang harus melakukan ekspedisi hingga berhari-hari, hingga anak-anak muda yang baru pulang dari beragam kegiatan. “Biasanya kalau tambah malam tambah banyak yang datang,” kata Sugiarto sambil mengaduk nasi dalam wajan.
Dalam satu hari, Sugiarto dapat memasak hingga 40 kilogram beras. Namun, selama ada kebijakan PPKM, banyaknya nasi yang dia masak dikurangi kira-kira sampai sepuluh kilogram. Sebabnya, pada pertama penerapannya, pelanggan yang datang mengalami penurunan. Juga adanya pembatasan waktu untuk berjualan. “Mulai pandemi ini cuma 30 kilogram,” ucapnya lagi.
Dengan jumlah itu, nasi goreng yang diolah selalu habis, bahkan sampai kekurangan. Kadang ketika stan belum ditutup, persediaan nasi sudah habis. Banyak orang yang kecele untuk membelinya.
Menurutnya, jika kondisi sudah mulai normal, besar kemungkinan jumlah nasi yang dimasak akan kembali pada jumlah sebelumnya. Dia berharap, nantinya jumlah produksi dapat kembali pada kondisi normal. Namun, untuk saat ini pihaknya masih ragu untuk melakukan penambahan jumlah nasi untuk jatah setiap harinya.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal