Pria kelahiran 73 tersebut adalah eks penjaga gawang mulai 2004–2007. Waktu itu, Persid berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, yaitu Divisi 1. “Divisi satu itu seperti liga dua. Dulu Persid kasta kedua, sekarang masih kasta ketiga, yaitu liga tiga,” terangnya.
Selepas pensiun sebagai pemain bola, Rahman memulai bisnis warung kecil-kecilan bersama istrinya di rumahnya sendiri. Selain itu, juga menjadi pelatih kiper di level klub, termasuk Persid yang kala itu berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, Divisi Utama 2014.
Memiliki keahlian dan pengalaman menjadi kiper, termasuk pernah jadi penjaga gawang Assyabab, Persema Malang, hingga Petrokimia Gresik, membawa Rahman pada jalan rezeki lain. Tetap menjadi pelatih kiper, tapi lebih spesifik lagi privat penjaga gawang.
Saat memilih tidak jadi pemain, waktu itu Rahman tidak pernah terpikir akan ada jalan hidup jadi pelatih privat kiper. “Setelah tidak bermain, saya kira untuk kembali ke lapangan mungkin jadi pelatih klub saja. Tidak pernah terpikir ada latihan privat kiper,” ungkapnya.
Dia menilai, sosok pelatih kiper ini cukup berbeda dengan pelatih bola pada umumnya. Sebab, kalau pelatih kiper itu harus jadi mantan pemain. Sementara itu, pelatih bola atau head coach tidak selalu mantan pemain. Bahkan, banyak juga yang bukan pemain bola justru sukses jadi pelatih.
Mengapa pelatih kiper itu wajib mantan penjaga gawang? Menurutnya, karena pengalaman inilah yang paling penting dalam melatih seorang penjaga gawang. “Karena punya pengalaman bagaimana menepis, menangkap, termasuk mengingatkan pemain belakang dalam bertahan. Maka dari itu, pemain bola paling cerewet itu kiper,” tuturnya.
Menurut dia, sukses dalam bermain bola itu tidak hanya berpedoman punya skill menawan saja. Namun, juga ada unsur keberuntungan dan kesempatan. Menjadi kiper utama di Assyabab yang berlaga di Galatama itulah yang membawa nama dirinya terus diminati sejumlah klub. “Saya masuk ke Assyabab itu awalnya minta izin latihan saja. Tapi, direkrut dan menjadi kiper nomor tiga, bukan pertama,” katanya.
Berbekal pengalamannya itu, dia pun berpesan kepada setiap pemain bola agar jangan berhenti dan terus semangat latihan walau jadi pemain cadangan. “Kalau sudah jadi pemain inti dan kembali ke cadangan, jangan frustrasi,” wejangnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona