Gebyar Layang-Layang Berbatik, atau disingkat Gelatik tersebut, tidak hanya menyedot perhatian pecinta layang-layang di daerah Sukorambi. Tapi juga daerah lain. Bahkan, penggemar layangan hias dari Puger juga datang.
Bila umumnya berwarna hitam polos, tapi layangan milik Saiful Bahri, warga Desa Wonosari, Kecamatan Puger, itu berbeda. Meski rangkanya tetap dari bambu dan plastik hitam jadi pembungkusnya, pria 40 tahun ini mempercantik layangannya sedemikian rupa dengan menambah ornamen batik bermotif semar.
Bahkan, ada juga layangan yang terbuat dari kertas kado bermotif batik. Kendati banyak orang ragu apakah layangan itu bisa naik lantaran jarang yang pakai kertas kado, namun ternyata bisa melayang juga. Namun, cukup berisiko, terutama ketika turun hujan. “Kalau dari kertas itu kan berat. Kena angin terlalu kencang juga bisa robek. Apalagi kalau terkena hujan,” tuturnya.
Sementara itu, Suharto, warga Sukorambi, menuturkan, adanya kreasi layangan seperti ini bisa menambah harga jual. Biasanya rata-rata harga jual layangan bulan atau layangan soangan itu sekitar Rp 70 ribu - Rp 100 ribu tergantung ukurannya. Namun, bila disentuh dengan hiasan seperti itu dia yakin harganya bisa naik.
Koordinator Pendamping Desa Akhmad Fourzan mengatakan, acara layangan batik ini dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober. Momentum itu oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) diperingati dengan membuat acara layangan batik, yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia. Disambungkan bersama-sama secara virtual.
Sebenarnya, dari Jember hanya disiapkan 10 layangan. Ternyata antusiasme masyarakat dan pemerintah desa cukup tinggi. Sehingga ada 20 layangan bermotif batik yang ikut dalam gebyar tersebut. “Dari Puger juga datang,” tuturnya.
Batik, kata dia, sudah melekat jadi busana bangsa termasuk di Jember. Bahkan, perajin batik di Jember juga banyak. Awalnya, justru ingin layangan yang diterbangkan dari kain batik asli. “Tapi terlalu berat, tidak bisa naik. Akhirnya pakai kertas bergambar batik dari pabrikan,” pungkasnya. Editor : Safitri