Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Akhir Pelarian Dewi Astutik: Gembong Sabu 2 Ton Dibekuk BNN Setelah Operasi Senyap di Kamboja

Imron Hidayatullahh • Rabu, 3 Desember 2025 | 01:13 WIB
Sosok sentral dalam jaringan penyelundupan 2 ton sabu ditangkap di Kamboja berkat operasi senyap BNN.
Sosok sentral dalam jaringan penyelundupan 2 ton sabu ditangkap di Kamboja berkat operasi senyap BNN.

Radar Jember - Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali mencetak capaian besar dalam pemberantasan narkotika internasional.

Melalui operasi senyap lintas negara, buronan kelas kakap kasus sabu, Dewi Astutik, berhasil ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, dan kini telah dibawa ke Indonesia untuk proses hukum lebih lanjut.

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers pada Selasa (2/12/2025) menjelaskan bahwa penangkapan ini merupakan hasil kerja sama erat antara BNN, Interpol, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Setibanya di Tanah Air, Dewi langsung dibawa menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

 Baca Juga: Usai Banjir Bandang dan Longsor Sumatera, Cak Imin Minta Evaluasi Total Kebijakan: ‘Kiamat Sudah Terjadi!'

Aktor Utama Jaringan Golden Triangle

Dalam pemaparannya, Ario menegaskan bahwa tersangka merupakan figur penting dalam peredaran narkotika kawasan Asia.

“BNN Republik Indonesia telah berhasil melakukan penangkapan terhadap DPO kasus narkotika atas nama Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda alias Dinda di wilayah Kamboja,” ujar Ario.

Ario menyebut, Dewi Astutik diduga memegang peran sentral dalam penyelundupan sabu berskala besar.

“Diduga merupakan aktor utama dari penyelundupan 2 ton sabu senilai 5 triliun,” lanjutnya.

Ario juga memaparkan bahwa berdasarkan analisis BNN, terdapat dua nama besar asal Indonesia yang mendominasi aktivitas narkotika di kawasan Golden Triangle.

“Berdasarkan hasil analisis terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi kawasan Golden Triangle, yakni Fredy Pratama dan Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda alias Dinda ini,” kata Ario.

 Baca Juga: Material Kayu Gelondongan Jadi Petunjuk Bencana Banjir Bandang di Sumatera: DPR Sebut Ada Masalah Serius di Hulu

Jaringan Asia-Afrika dan Buronan Korea Selatan

Tidak hanya berperan sebagai pemasok sabu dalam jumlah masif, Dewi juga disebut berperan sebagai perekrut untuk jaringan yang lebih luas.

“Selain itu, Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda alias Dinda ini merupakan rekruter dari jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan,” tutur Ario.

Posisi Dewi di jaringan internasional ini memperkuat alasan BNN menempatkannya sebagai salah satu target prioritas, mengingat jejaringnya meluas hingga lintas benua dan masuk dalam radar keamanan berbagai negara.

 Baca Juga: Dituding Jadi Biang Kerok Banjir Sumatera saat Menjabat Menteri Kehutanan, Begini Respons Zulkifli Hasan

Penyelamatan 8 Juta Jiwa

Salah satu operasi besar yang dikaitkan dengan Dewi adalah penyelundupan 2 ton sabu, yang berhasil digagalkan aparat.

Ario menyebut penyitaan tersebut berdampak sangat signifikan terhadap keselamatan publik.

“Penangkapan 2 ton sabu tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika,” pungkasnya.

Keberhasilan membawa pulang salah satu buronan paling dicari ini sekaligus menunjukkan meningkatnya efektivitas operasi lintas negara yang dilakukan Indonesia.

Penangkapan Dewi Astutik menjadi penegasan bahwa jaringan sindikat internasional semakin terdesak dan BNN terus memperluas pengejaran terhadap figur-figur utama lainnya, termasuk mereka yang masih aktif beroperasi di kawasan Golden Triangle.

Kini, Dewi akan menjalani proses hukum di Indonesia, sementara BNN memastikan bahwa investigasi terhadap jaringan yang terkait dengannya akan terus berlanjut.

Editor : Imron Hidayatullahh
#Dewi astutik #buronan narkoba #Dewi Astutik buronan penyeludupan sabu #interpol #kamboja #bnn