radar jember - Film-film yang menyertakan sosok disabilitas cenderung menjadikan mereka sebagai objek simpati.
Namun, berbeda dengan film yang disutradarai oleh Tyler Nilson dan Michael Schwartz yang satu ini.
The Peanut Butter Falcon (2019) adalah film yang mampu menjadikan tokoh disabilitasnya sebagai seorang subjek aktif yang berdaya dan mampu menentukan agensi dalam hidupnya sendiri.
Dengan menikuti perjalanan Zak (Zack Gottsagen), seorang pemuda dengan Down syndrome yang melarikan diri dari panti jompo, film ini mampu menyampaikan pentingnya inklusivitas dan pengakuan terhadap individu yang berbeda dengan sangat apik dan menyentuh.
Mimpi besar Zak adalah menjadi pegulat profesional. Ratusan kali ia mengulang tontonan yang menayangkan pertandingan pegulat jagoannya, Salt Water Redneck.
Mengetahui bahwa pegulat jagoannya membuka sanggar pelatihan gulat, dirinya jadi terdorong untuk melikan diri dari pati jompo tersebut.
Berkali-kali mencoba, akhirnya ia berhasil keluar dan melarikan diri.
Disisi lain, seorang pria bernama Tyler (Shia LaBeouf) juga sedang dalam setelah membakar alat mencari ikan majikannya yang semena-mena terhadap dirinya. Keduanya kemudian bertemu dan menjadi sahabat.
Sekalipun berasal dari dunia yang sama sekali berbeda, persahabatan mereka mampu mengubah hidup keduanya, lebih-lebih juga menentang batasan sosial tentang siapa yang berhak untuk bermimpi dan mewujudkannya.
Dalam film ini, Zak digambarkan sebagai seseorang yang memiliki ambisi, tekat, dan keberanian yang kuat untuk keluar dari batasan yang dipakasakan oleh sistem dan masyarakat.
Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, zak mampu membuktikan bahwa dirinya bisa bertahan, belajar, bahkan menginspirasi orang lain dengan keberaniannya.
Hubungan antara Zak dan Tayler pun berkembang menjadi sebuah kisah yang ketersalingan, alih-alih menjadikan Tayler sebagai “pahlawan” Zak.
Dalam perjalanannya, justru Zaklah yang berperan banyak dalam memberikan pelajaran berharga untuk Tayler tentang makna hidup yang telah menjadi asing baginya sejak kakaknya meninggal.
Inilah yang membuat film ini berbeda dengan kebanyakan film yang terdapat karakter Down syndrom didalamnya.
The Peanut Butter Falcon dengan tegas mengkritik bagaimana individu dengan disabilitas seringkali dipandang rendah hingga dianggap tidak mampu untuk menjadi sesuatu dalam hidupnya. Alhasil, mereka kehilangan kesempatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Alih-alih menjadikan Zak sebagai simbol tragedi atau perjuangan semata, film ini justru memberikan kesempatan kepada Zak sebagai seorang manusia yang layak untuk menentukan hidup dan menggapai mimpinya.
Disisilain, inklusivitas tidak hanya menjadi narasi dalam film ini, lebih jauh, mewujud dalam praktik produksinya.
Pemilihan Zack Gottsagen sebagai aktor untama yang benar-benar memiliki Down syndrome adalah sesuatu yang jarang terjadi di industri film besar seperti Hollywood.
Ini adalah langkah besar dalam industri film yang sering kali memilih aktor tanpa disabilitas untuk memerankan karakter dengan disabilitas, sebuah praktik yang sering dikritik oleh komunitas disabilitas karena cenderung tidak autentik dan mengesampingkan talenta yang sebenarnya ada.
Lebih jauh, dengan diberikannya ruang dan kesempatan yang sama kepada Zack, film ini mampu memberikan kredibilitas emosional yang mendalam sekaligus membuka lebar-lebar pintu inklusifitas dalam dunia perfilman.
Keterbatasan hanya mampu mewujud dalam masyarakat yang membiarkannya.
Dengan kehangatan, humor, dan kejujuran emosional yang tulus, The Peanut Butter Falcon menjadi sebuah pernyataan penting tentang bagaimana inklusivitas bukan sekadar tentang menerima perbedaan, tetapi tentang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk menjalani hidup dengan memberikan kesempatan yang sama.
Editor : M. Ainul Budi