BACA JUGA : Bangun Kerja Sama, Hidupkan Poskamling
Hal itulah yang dilakukan oleh Nurma, salah satu pengusaha tahu daerah Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Dia mengaku harus mengubah ukuran tahunya agar tetap bisa berproduksi. Perempuan 38 tahun tersebut menjelaskan, menjelang Ramadan harga kedelai mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari sebelumnya. “Yang awalnya hanya Rp 11 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 14 ribu per kilogram,” ucapnya.
Perempuan yang 18 tahun menjadi perajin tahu tersebut mengatakan, ia memilih untuk membuat tahunya lebih tipis. "Alhamdulillah, konsumen saya belum ada yang mengeluh, terkait menyusutnya tahu yang saya produksi ini," bebernya.
Cara memperkecil ukuran tahu juga dilakukan oleh M. Rahim. Perajin tahu tempe itu harus mengurangi ukuran tempenya agar harga jualnya tetap. "Untuk kenaikan kedelai ini saya tidak menaikkan harga tahu tempenya, karena takut tidak ada yang mau beli. Lebih baik ukurannya saja dikurangi,” terangnya. Tempe yang diproduksinya, dari ukuran 30 sentimeter, kini menjadi 20 sentimeter saja.
Selain itu, Rahim juga mengurangi produksinya. Biasanya dalam satu produksi ia menghabiskan 40 kilogram kedelai, kini hanya 30 kilogram. Hal itu dilakukan karena harga kedelai naik, ditambah keterbatasan modal. “Harga kedelai naik, modalnya juga tidak bisa membeli kedelai cukup banyak,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember Bambang Saputro mengatakan, stok kedelai masih aman, tidak terjadi kelangkaan. "Untuk saat ini stok kedelai impor masih aman, terutama di pasar tradisional," katanya.
Bambang mengatakan, harga kedelai berkisar Rp 11 ribu per kilogram sampai Rp 14 per kilogram masih dikategorikan aman. Artinya, bisa dijangkau oleh para perajin tahu tempe. “Harga segitu masih batas aman,” imbuhnya. Bambang menyampaikan, pihaknya akan terus melakukan antisipasi agar pasokan kedelai tetap terjaga, terutama saat Ramadan. (mg4/c2/dwi) Editor : Safitri