BACA JUGA : Rencana Tunjangan Beras untuk ASN, Demi Perbaikan HPP atau Sekadar Bisnis?
Memasuki pertengahan bulan ini, petani tebu mulai menyambut musim panen. Kabar baik datang mengiringi petani tebu di Jember, setelah satu tahun menunggu sejak tanam. Seperti yang terjadi pada petani tebu di Desa Sidomukti, Mayang. Sebagian petani telah memulai penebangan untuk menyambut masa panen.
Hal itu diungkapkan oleh salah seorang warga Desa Sidomukti, Arifan Abdi, yang bekerja sebagai petani tebu. Dia menyebut, pertengahan tahun ini, antara bulan Mei hingga Oktober nanti, merupakan masa panen bagi petani tebu, mengikuti usia tebu itu sendiri. “Masa tanam tebu biasanya satu tahun. Musim panen tergantung usia dari tebu itu sendiri,” katanya.
Memasuki musim panen ini, petani mulai mencari pasaran harga di pabrik gula. Tanaman tebu berbeda dengan jenis tanaman yang lain. Petani tebu bisa ikut campur dalam menentukan harga. “Kami mulai cari pasaran di pabrik gula. Paling sering mengirim ke luar kota,” tambah Ifan, sapaan akrabnya.
“Selama empat tahun terakhir ini, hasil panen tebu bagus terus. Bahkan harganya juga naik,” tutur Ifan kepada Jawa Pos Radar Jember.
Dia menyebut, petani tebu di sekitar Sidomukti dapat dikatakan sejahtera dengan hasil tebu tersebut. Sebab, tanaman tebu hampir tidak pernah mengalami gagal panen. Kendala paling sering dialami ketika curah hujan tinggi, petani tebu tidak bisa melakukan penebangan dalam kondisi tanah berlumpur. Sebab, armada yang mengangkut tidak bisa masuk.
“Kalau musim hujan begini kami tidak bisa tebang, karena tanahnya ambles ketika dilewati truk pengangkut tebu,” pungkasnya. (mg4/c2/bud)
Editor : Safitri