BADEAN, Radar Ijen - Lonjakan harga aspal yang menembus hampir 40 persen, pasca kenaikan BBM mengguncang proyek infrastruktur daerah. Di Bondowoso, dampaknya langsung terasa, mulai dari tender perbaikan jalan tersendat, hingga lelang harus diulang hingga tiga kali.
Sementara kontraktor memilih mundur karena hitung-hitungan biaya dinilai tak lagi realistis.
Kenaikan harga aspal yang hampir menyentuh 40 persen membuat proyek perbaikan jalan di Bondowoso menghadapi hambatan serius. Sejumlah paket pekerjaan yang seharusnya segera berjalan justru tertahan karena proses lelang terpaksa diperpanjang hingga tiga kali.
Baca Juga: Piutang PBB Capai Puluhan Miliar, Bapenda Bondowoso Pusing
Masalah utamanya bukan pada minimnya proyek, melainkan keengganan penyedia jasa konstruksi mengikuti tender. Lonjakan harga bahan baku, terutama aspal yang terdampak langsung kenaikan harga BBM, membuat banyak kontraktor menilai nilai proyek yang ditawarkan pemerintah tidak lagi sebanding dengan kondisi pasar.
Salah seorang penyedia jasa konstruksi asal Bondowoso berinisial S mengakui, perubahan harga yang begitu cepat membuat pelaku usaha harus berpikir ulang sebelum masuk dalam mini kompetisi.
"Ngepres sekali," ungkapnya.
Menurut dia, jika menggunakan satuan harga dalam dokumen lelang lama, margin pekerjaan nyaris habis.
Setelah dihitung ulang dengan harga material terbaru, biaya pelaksanaan bahkan bisa membengkak hingga 105 persen dari pagu anggaran yang tersedia.
Situasi tersebut menempatkan kontraktor pada posisi sulit. Mengikuti tender berarti berisiko merugi, sementara tidak ikut membuat proyek infrastruktur daerah tertunda. Karena itu, banyak penyedia memilih menahan diri sambil menunggu adanya penyesuaian harga.
S menilai, perencanaan dari Dinas BSBK kemungkinan telah dilakukan jauh hari sebelum gejolak harga terjadi.
Namun, laju kenaikan aspal yang terlalu cepat membuat asumsi anggaran awal tak lagi relevan dengan kondisi lapangan saat ini.
Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan hanya dialami Bondowoso. Sejumlah daerah lain juga menghadapi tekanan serupa akibat kenaikan BBM yang memicu lonjakan harga aspal dan material konstruksi lain. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi