DABASAH, Radar Ijen — Keberadaan 22 anak gunung di kawasan Ijen disebut menjadi penentu masa depan pembangunan berbasis Geopark di Bondowoso.
Pemerintah daerah menilai kekayaan geologi tersebut merupakan modal utama untuk mendorong pengakuan kawasan sebagai geopark yang kuat sekaligus destinasi riset dan wisata kelas dunia.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bondowoso Anisatul Hamidah menjelaskan, dari total 22 anak gunung, tujuh di antaranya sudah disurvei akademisi dan dikenal sebagai Seven Summit Ijen.
Sisanya dinilai memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal.
“Ini bukan sekadar gunung, tetapi laboratorium alam. Jika dikembangkan dengan pendekatan Geopark, dampaknya bisa luar biasa bagi ekonomi, pendidikan, dan konservasi,” ujarnya.
Menurut Anis, kekuatan utama Geopark memang terletak pada keunikan geologi. Karena itu, inventarisasi, penelitian, hingga penataan kawasan terus dilakukan agar seluruh potensi anak gunung dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Ia menambahkan, pembangunan Geopark tidak bisa berjalan sektoral. Sinkronisasi lintas perangkat daerah terus diperkuat melalui diskusi, revalidasi program, dan penyelarasan perencanaan.
Dalam rapat koordinasi terakhir, seluruh OPD disebut telah memahami peran masing-masing.
Anis juga menegaskan bahwa tahapan perencanaan sudah berjalan. Musrenbang desa untuk tahun 2027 telah dilaksanakan, sementara program 2026 dinyatakan sudah final.
Selain potensi geologi, penguatan masyarakat di sekitar kawasan juga menjadi perhatian.
Desa Kalianyar ditetapkan sebagai proyek percontohan community development internasional yang melibatkan tujuh profesor dari berbagai bidang.
Program tersebut meliputi pelatihan pengolahan kopi, pengembangan produk turunan, hingga pengurusan legalitas usaha seperti NIB dan PIRT.
“Masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton,” tegasnya.
Pemkab juga mulai menyiapkan langkah penghitungan emisi karbon. Berdasarkan proyeksi awal, Bondowoso diperkirakan memiliki surplus karbon dibanding kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Jika tersertifikasi, potensi tersebut dapat dimanfaatkan dalam skema perdagangan karbon.
Di bidang pendidikan, penguatan identitas lokal juga mulai diintegrasikan, termasuk seni budaya khas seperti Tari Molong Kopi yang merepresentasikan sejarah kopi Bondowoso.
Meski begitu, Anis mengakui masih banyak kerja teknis yang belum sepenuhnya terlihat publik. Ia memastikan, seluruh langkah penguatan Geopark terus berjalan. “Yang paling menentukan tetap potensi geologi. Selama 22 anak gunung ini dikelola dengan baik, Bondowoso punya peluang besar menjadi kawasan Geopark unggulan,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi