BOTOLINGGO, Radar Ijen – Dampak bencana tanah longsor di Kecamatan Botolinggo kian meluas. Sedikitnya 509 kepala keluarga (KK) di Desa Klekean terdampak gangguan kebutuhan air bersih. Untuk mencegah krisis air berkepanjangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso langsung menurunkan armada distribusi air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan kebutuhan air bersih menjadi persoalan paling mendesak pascabencana. Longsor mengganggu akses dan sumber air yang biasa dimanfaatkan warga.
“Setelah longsor, beberapa sumber air warga tidak bisa dimanfaatkan. Karena itu kami lakukan dropping air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” kata Kristianto.
Pendistribusian dilakukan Sabtu (7/2) sejak pagi hingga saat ini.
Sejumlah dusun terdampak menjadi sasaran, di antaranya Krajan, Banteng Lor, Plampang, Banteng Dukbetoh, Banteng Kidul, hingga Sumberwaru.
BPBD memastikan seluruh wilayah yang terdata mendapat suplai air bersih.
Ia menjelaskan, BPBD mengerahkan dua unit truk tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.
Armada tersebut disebar ke titik-titik terdampak berdasarkan pendataan di lapangan agar distribusi berjalan merata.
“Distribusi kami lakukan sesuai data RT dan dusun, supaya tidak ada warga yang terlewat,” tegasnya.
Kristianto menambahkan, kondisi cuaca yang relatif cerah berawan cukup membantu kelancaran distribusi.
Meski demikian, BPBD tetap melakukan pemantauan karena potensi bencana susulan masih ada.
Baca Juga: Ukur Lahan, Bongkar Klaim Fiktif di Hutan Perhutani: Begini Komentar Perhutai KPH Bondowoso
“Situasi kami pantau terus. Kalau kebutuhan air bersih masih tinggi, kami siap lanjutkan distribusi,” ujarnya.
BPBD Bondowoso juga melibatkan pemerintah kecamatan dan desa setempat dalam proses penyaluran.
Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan dampak bencana sekaligus menjaga ketertiban di lapangan. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi