BADEAN, Radar Ijen – Kenaikan harga kedelai kembali menekan pelaku usaha tahu di Bondowoso. Dalam sebulan terakhir, harga bahan baku utama itu melonjak hingga menyentuh Rp 9.800 per kilogram, dari sebelumnya Rp 8.200 per kilogram.
Lonjakan terjadi bertahap, rata-rata Rp100 per kenaikan, namun terus berlanjut hingga membuat biaya produksi kian berat.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh pelaku industri rumahan yang bergantung pada pasokan kedelai impor.
Adi Sucipto, pemilik pabrik tahu di Kecamatan Bondowoso, mengungkapkan kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak sebulan lalu. “Naiknya itu Rp 100, terus berangsur,” ujarnya.
Setiap hari, ia membeli hampir dua kwintal kedelai di Pasar Tenggarang untuk memenuhi kebutuhan produksi.
Tahu hasil produksinya dipasarkan ke sejumlah pasar, toko, hingga dapur SPPG. “Saya pakai kedelai impor,” katanya.
Kenaikan harga kedelai berdampak langsung pada margin keuntungan. Namun, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah karena berisiko menurunkan daya beli masyarakat.
Karena itu, produsen memilih jalan tengah, memperkecil ukuran tahu. “Kalau dinaikkan langsung kasian pembeli, bisa pindah beli tahunya,” ujarnya.
Salah satu cara yang ditempuh adalah menambah jumlah potongan dari ukuran standar. Potongan 77 kini diubah menjadi 80 potong agar harga tetap bertahan di pasar.
Meski tertekan, Cip memastikan tidak akan mengurangi jumlah pekerja. Saat ini, delapan orang masih tetap bekerja di pabriknya.
Menurutnya, fluktuasi harga kedelai sudah menjadi siklus yang kerap terjadi setiap tahun, terutama saat musim hujan. “Kalau yang sekarang katanya karena dollar naik,” pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi